Apa Itu Pajak Pertambahan Nilai Atau PPN Adalah Sebagai Berikut!

Tarif PPN Naik Jadi 11% & 12% di UU HPP, Berlaku Mulai 2022

Tarif terbaru berdasarkan UU HPP, daftar negatif list, subjek, contoh hingga apa itu pengertian Pajak Pertambahan Nilai Atau PPN adalah sbeagai berikut akan dijelaskan di blog Klikpajak.id disini!

Dalam RUU HPP yang telah disahkan DPR untuk menjadi undang-undang pada 7 Oktober 2021, tarif Pajak Pertambahan Nilai resmi naik jadi 11% dan 12%.

Sebelumnya, tarif umum PPN adalah 10%. Lebih jelasnya kapan tarif terbaru berlaku dan penjelasannya mulai dari pengertian, subjek, contoh hingga daftar negatif list PPN adalah seperti apa, Klikpajak by Mekari akan mengulasnya untuk Sobat Klikpajak.

Asal tahu saja, kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai terbaru ini merupakan bagian dari Revisi Undang-Undang Perpajakan yang tertuang dalam Rancangan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (RUU HPP).

Tarif Pajak Pertambahan Nilai diputuskan naik secara bertahap menjadi 11% dan 12% dalam RUU HPP yang akan diundangkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum-HAM) dalam kurun waktu maksimal 30 hari pasca ketok palu pengesahan RUU HPP menjadi undang-undang oleh DPR.

Perlu diketahui, rentang tarif yang diperbolehkan oleh UU PPN adalah maksimal 15%. Sedangkan berapa besar tarif PPN yang diberlakukan masih harus diatur dalam peraturan lanjutan yang mengatur detail implementasinya.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang tarif PPN, Klikpajak.id akan mengingatkan kembali cara kelola pajak bisnis yang efektif, bebas buang waktu dan tenaga, juga cara mengelola pajak perusahaan yang enggak ribet hanya di aplikasi pajak online mitra resmi Ditjen Pajak (DJP) yakni Klikpajak by Mekari.

Mau tahu cara kelola Faktur Pajak elektronik lebih simpel dan cepat? Lakukan melalui e-Faktur Klikpajak yang terintegrasi software akuntansi online Jurnal.id.

Pajak Pertambahan Nilai: Tarif PPN Terbaru & Daftar Negatif List PPN

Saya Mau Coba Gratis Klikpajak Sekarang!

Pada saat pembahasan RUU HPP terkait kenaikan tarif PPN sebelumnya memang sempat diwarnai polemik di masyarakat. Ada yang pro, tak sedikit pula yang kontra.

Ada kekhawatiran kenaikan tarif berdampak pada naiknya harga-harga barang/jasa. Ditambah lagi rencana sejumlah barang/jasa kena pajak dikeluarkan dari daftar negatif list alias tidak lagi bebas PPN.

Namun pemerintah dalam poin-poin UU HPP terkait Pajak Pertambahan Nilai ini menegaskan, bagi masyarakat berpenghasilan menengah dan kecil tetap tidak perlu membayar PPN atas konsumsi kebutuhan pokok, jasa pendidikan, jasa kesehatan, dan layanan sosial.

Seperti apa berlakunya PPN terbaru dalam UU HPP ini, terus simak ulasan dari Klikpajak.id terkait pelaksanaan aturan baru Pajak Pertambahan Nilai ini dan penjelasan umum mulai dari objek , subjek , contoh, dan daftar negatif list PPN terbaru.

Temukan cara kelola Faktur Pajak lebih cepat langsung tarik data dari laporan keuangan online hanya di e-Faktur Klikpajak. Coba & buktikan sekarang!

Pemahaman tentang Pajak Pertambahan Nilai & Peraturan PPN

Pengertian Pajak Pertambahan Nilai atau PPN adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi dalam negeri oleh Wajib Pajak Orang Pribadi, Badan, dan Pemerintah.

Dalam penerapannya, Badan atau Perorangan yang membayar pajak ini tidak diwajibkan untuk menyetorkan langsung ke kas negara, melainkan lewat pihak yang memotong/memungut PPN.

Pajak Pertambahan Nilai bersifat objektif, tidak kumulatif, dan merupakan pajak tidak langsung.

Subjek pajaknya terdiri dari Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan non PKP.

Bedanya, jika sebagai PKP wajib memungut, sedangkan Non PKP tidak bisa memungut PPN.

Tapi ketika melakukan transaksi barang/jasa kena PPN tidak bisa mengkreditkan Pajak Masukan.

Ada pun ketentuan tentang PPN adalah diatur dalam peraturan perundang-undangan perpajakan yang telah mengalami beberapa kali perubahan.

Terbaru diatur dalam RUU HPP berkaitan dengan besar tarif PPN terbaru.

Baca juga tentang Aturan Baru Membuat e-Faktur dan Cara Mengkreditkan Pajak Masukan di UU Cipta Kerja

A. Undang-Undang yang Mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Terdapat beberapa kali perubahan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai di Indonesia.

Adapun perubahan yang terjadi disebabkan karena adanya pergantian model pemungutan pajak dan peraturan perundang-undangan agar bisa lebih sederhana dan adil untuk masyarakat termasuk dalam pembuatan Faktur pajaknya.

Berikut adalah perubahan UU terkait Paja Pertambahan Nilai di Indonesia:

1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983

UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diciptakan untuk mengatur tentang PPN dan PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) yang disahkan pada 1 April 1985.

2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000

Setelah UU No. 8 Tahun 1983, muncul perubahan kedua yaitu Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa dan PPnBM.

Perubahan ini dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan sistem perpajakan yang tepat untuk  masyarakat juga untuk meningkatkan penerimaan negara.

3. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009

Perubahan ketiga adalah UU No. 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan PPnBM.

Untuk melengkapi kekurangan pada UU Pajak Pertambahan Nilai sebelumnya, undang-undang ini bertujuan memberikan keadilan hukum dan keamanan bagi negara dan masyarakat dengan sistem perpajakan yang jauh lebih sederhana.

4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020

Meski ketentuan baru tentang Pajak Pertambahan Nilai ini juga diatur kembali dalam UU No.11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja pada klater perpajakan, namun UU 42 Tahun 2009 sebagian masih berlaku.

Ada bebrapa bagian pasal dalam UU Cipta Kerja klaster perpajakan ini yang mengubah atau menambahkana beberapa pasar dari undang-undang pendahulunya.

5. Terbaru dalam UU HPP No. 7 Tahun 2021

Peraturan perundang-undangan perpajakan tentang PPN tertuang dalam UU HPP No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.

Buruan siapkan diri! Tax Amnesty Jilid 2 Dibuka, Begini Cara Isi Formulir Amnesti Pajak

b. Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai di Indonesia

Secara teknis, mekanisme yang berlaku terhadap PPN di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. PKP yang melakukan penyerahan BKP/JKP wajib memungut Pajak Pertambahan Nilai dari pembeli/penerima BKP/JKP, dan membuat Faktur Pajak sebagai bukti pemungutannya.
  2. Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum dalam Faktur Pajak tersebut merupakan Pajak Keluaran bagi PKP Penjual BKP/JKP, yang sifatnya sebagai pajak yang harus dibayar (utang pajak).
  3. Pada waktu PKP melakukan pembelian/perolehan BKP/JKP yang dikenakan PPN yang merupakan Pajak Masukan yang sifatnya sebagai pajak yang dibayar di muka, sepanjang BKP/JKP yang dibeli tersebut berhubungan langsung dengan kegiatan usahanya.
  4. Untuk setiap Masa Pajak (setiap bulan), apabila jumlah Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan, maka selisihnya harus disetor ke Kas Negara paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan. Dan sebaliknya, apabila jumlah Pajak Masukan lebih besar daripada Pajak Keluaran, maka selisih tersebut dapat dikompensasi ke masa pajak berikutnya. Restitusi hanya dapat diajukan pada akhir tahun buku. Hanya PKP yang disebutkan dalam Pasal 9 ayat (4b) UU Nomor 42 Tahun 2009 saja yang dapat mengajukan restitusi untuk setiap Masa Pajak.
  5. PKP di atas wajib menyampaikan SPT Masa PPN setiap bulan ke KPP terkait paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak.

Simplifikasi urus perpajakan perusahaan dengan Fitur Multi User & Multi Company Klikpajak.

Pajak Pertambahan Nilai: Tarif PPN Terbaru & Daftar Negatif List PPN

Saya Mau Coba Gratis Klikpajak Sekarang!

B. Objek PPN (Pajak Pertambahan Nilai)

Jika ada objek yang dikenakan pajak, maka kebalikannya, juga akan ada objek yang dibebaskan dari pengenaan pajak.

Berikut adalah objek dan yang dikecualikan dari PPN alias yang masuk dalam daftar negative list PPN:

1. Barang/Jasa yang Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai

  • Penyerahan Barang Kena Pajak (BPK) dan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha.
  • Impor Barang Kena Pajak.
  • Pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
  • Pemanfaatan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
  • Ekspor Barang Kena Pajak berwujud atau tidak berwujud dan ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP).
  • Kegiatan Membangun Sendiri bangunan dengan luas lebih dari 200m2 yang dilakukan di luar lingkungan perusahaan dan/atau pekerjaan oleh Orang Pribadi atau Badan yang hasilnya digunakan sendiri atau pihak lain.
  • Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang Pajak Masukan yang dibayar pada saat perolehan aktiva tersebut boleh dikreditkan.

Baca juga pajak baru dalam RUU HPP, yakni Pajak Karbon Berlaku! Ini Tarif Carbon Tax Perusahaan

2. Daftar Negatif List atau Bebas PPN

Tidak semua barang atau jasa dikenakan Pajak Pertambahan Nilai, ada sejumlah BKP/JKP yang masuk dalam daftar negative list atau tidak dikenakan PPN.

Pengecualian Pajak Pertambahan Nilai ini dikenakan terhadap barang/jasa tertentu yang diatur dalam UU Pajak Pertambahan Nilai.

a. Barang Tidak Kena Pajak

  • Barang hasil pertambangan atau pengeboran (minyak mentah, asbes, batu bara, gas bumi, dan lain-lain).
  • Barang Kebutuhan Pokok (beras, jagung, susu, daging, kedelai, sayuran, dan lainnya).
  • Makanan dan minuman yang disajikan di rumah makan atau restoran.
  • Uang dan emas batangan.

b. Jasa Tidak Kena Pajak

  • Jasa pelayanan medis
  • Jasa pelayanan sosial
  • Jasa keuangan
  • Jasa asuransi
  • Jasa keagamaan
  • Jasa pendidikan
  • Jasa kesenian dan hiburan
  • Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan
  • Jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara
  • Jasa perhotelan
  • Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum
  • Jasa penyediaan tempat parkir
  • Jasa boga atau katering

Baca juga tentang Pajak Pertambahan Nilai Jasa Luar Negeri dan Cara Perhitungan Pajaknya

3. Barang/Jasa yang Dikeluarkan dari Daftar Negative List PPN dalam UU HPP

Seperti yang sudah disinggung di atas, dalam UU HPP ini memang dilakukan perluasan objek PPN.

Artinya, barang/jasa kena pajak dalam daftar negative list dikeluarkan dari pembebasan PPN, seperti:

  • Kebutuhan pokok
  • Jasa kesehatan
  • Jasa pendidikan
  • Jasa ppelayanan sosial
  • Beberapa jenis jasa lainnya

Namun, RUU HPP juga menegaskan bagi masyarakat berpenghasilan menengah dan kecil, tetap tidak perlu membayar atas konsumsi kebutuhan pokok, jasa pendidikan, jasa kesehatan, dan layanan sosial tersebut.

Pajak Pertambahan Nilai: Tarif PPN Terbaru & Daftar Negatif List PPNIlustrasi pengecualian atau daftar negatif list PPN atau bebas Pajak Pertambahan Nilai

C. Dasar Pengenaan Pajak PPN

Untuk menghitung Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai digunakan nilai yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Dasar Pengenaan Pajak (DPP) sendiri terdiri dari:

1. Harga Jual

Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak.

2. Penggantian

Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud.

3. Nilai Impor

Nilai Impor adalah uang yang digunakan sebagai dasar penghitungan Bea Masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak.

4. Nilai Ekspor

Nilai Ekspor adalah uang atau biaya yang diminta oleh eksportir.

5. Nilai Lain

Nilai Lain adalah nilai berupa uang yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan Pajak yang diatur oleh Menteri Keuangan.

DPP PPN (Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai) yang diatur dalam Pasal 9 ayat 1 sebagai berikut:

  • Untuk penyerahan BKP atau pemanfaatan BKP tidak berwujud, DPP-nya adalah jumlah harga jual.
  • Untuk pengimporan BKP, DPP-nya adalah nilai impor (definisi nilai impor lihat Pasal 1 angka 20 UU PPN).
  • Untuk pengeksporan BKP, DPP-nya adalah nilai ekspor.
  • Untuk kasus penyerahan BKP/JKP tertentu, DPP-nya adalah nilai lain. Nilai lain adalah suatu jumlah yang ditetapkan Menteri Keuangan sebagai Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas jenis penyerahan BKP/JKP tertentu.

Pajak Pertambahan Nilai: Tarif PPN Terbaru & Daftar Negatif List PPNIlustrasi penyerangan barang kena pajak pertambahan nilai.

Ketahui juga tentang Fungsi SSPCP dan Penggunaannya bagi Eksportir & Importir

D. Tarif Yang Berlaku & Kapan Kenaikan Tarif PPN Terbaru 11% dan 12% Berlaku?

Sesuai Pasal 7 UU No. 42 Tahun 2009 disebutkan besar tarif PPN adalah sebagai berikut:

  1. Tarif umum 10% untuk penyerahan dalam negeri
  2. Tarif khusus 0% diterapkan atas ekspor BKP berwujud maupun tidak berwujud, dan ekspor JKP.
  3. Tarif Pajak sebesar 10% dapat berubah menjadi lebih rendah, yaitu 5% dan paling tinggi 15% sebagaimana diatur oleh Peraturan Pemerintah.

Sedangkan ketentuan terbaru dalam UU HPP ini, besar tarif PPN adalah 11% dan 12%.

Tarif PPN 11% dan 12% berlaku mulai?

Tarif Pajak Pertambahan Nilai terbagi menjadi dua yaitu tarif umum dan tarif khusus.

Seiring dengan adanya tarif baru, maka tarif PPN 10% akan berakhir pada Maret 2022.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, berlakunya kenaikan tarif PPN terbaru dalam UU HPP tersebut dilakukan secara bertahap, yakni:

1. Tarif Umum

  • Tarif PPN 11% berlaku mulai 1 April 2022
  • Tarif PPN 12% paling lambat diberlakukan 1 Januari 2025

2. Tarif Khusus

Sedangkan tarif khusus untuk kemudahan dalam pemungutan PPN, atas jenis barang/jasa tertentu aau sektor usaha tertentu diterapkan tarif PPN final, misalnya 1%, 2% atau 3% dari peredaran usaha, yang diatur dengan PMK.

Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai yang Bisa Dimanfaatkan PKP

Setidaknya ada beberapa fasilitas atau insentif Pajak Pertambahan Nilai yang bisa dimanfaatkan oleh PKP, di antaranya:

1. PPN Tidak Dipungut dan Dibebaskan

Pembebasan PPN diberikan pada Pengusaha Kena Pajak:

  • PKP yang menyerahkan barang/jasa kena pajak tertentu
  • Penyerahan pada perwakilan negara asing
  • Penyerahan pada badan internasional
  • Penyerahan dengan asas timbal balik/resiprokal

Sedangkan PPN tidak dipungut diberikan untuk penyerahan terkait dengan kawasan ekonomi tertentu.

Fasilitas pembebasan tarif Pajak Pertambahan Nilai ini diatur dalam UU PPN Pasal 16B Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 jo. UU No. 42/2009.

PPN yang dibebaskan ini memiliki kode transaksi 08, sementara yang tidak dipungut memiliki kode transaksi 07.

2. Fasilitas PPN Ditanggung Pemerintah (DTP)

Insentif PPN DTP diberikan pada sektor properti yang diatur dalam PMK No.103/PMK.03/2021.

Insentif Pajak Pertambahan Nilai DTP properti ini diberikan untuk penyerahan rumah tapak baru dan unit hunian rumah susun baru.

  • Diskon DTP properti 100% untuk Pajak Pertambahan Nilai rumah atau unit dengan harga jual paling tinggi Rp2 miliar.
  • Diskon PPN DTP properti sebesar 50% untuk rumah atau unit dengan harga di atas Rp2 miliar – Rp5 miliar.

3. PPN Tarif 0%

Pengenaan PPN 0% diberikan pada ekspor barang/jasa kena pajak, yang diatur dalam Pasal 4 ayat (1) UU Pajak Pertambahan Nilai.

Pemberian insentif PPN 0% dilakukan perluasan jenis ekspor jasa kena pajak (JKP), yang mulai berlaku sejak 29 Maret 2021, diatur dalam PMK No. 32/PMK.03/2019.

Saya Mau Coba Gratis Klikpajak Sekarang!

Temukan di sini Cara Input PIB di e-Faktur 3.0 untuk Importir

E. Rumus & Cara Menghitung PPN

Perhitungan PPN yang terutang dilakukan dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP). ​Proses perhitungan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Pajak Pertambahan Nilai = Tarif PPN x Dasar Pengenaan Pajak (DPP)

Dasar pengenaan pajak terdiri dari:

1. Harga jual & penggantian

Harga jual dan penggantian adalah biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan BKP/JKP.

2. Nilai ekspor & impor

Nilai ekspor dan impor adalah nilai yang menjadi dasar penghitungan Bea Masuk ditambah pungutan kepabeanan dan cukai untuk impor BKP atau semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir.

3. Nilai lain

Sedangkan nilai lain ini diatur dengan atau berdasarkan PMK hanya untuk menjamin rasa keadilan yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak.

Contoh kasus 1:

Jika di dalam harga jual atau penggantian atau nilai lain belum termasuk PPN, perhitungannya sebagai berikut:

Pada tanggal 3 Juli 2018 terjadi transaksi: PKP PT Suka Maju di Semarang menjual 1 buah kulkas seharga Rp6.000.000 belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai kepada Bapak Fauzan di Magelang.

Transaksi menjual di Semarang adalah penyerahan di dalam daerah pabean. Kulkas adalah barang kena pajak, yang menyerahkan kulkas adalah pengusaha kena pajak. Jadi transaksi atau peristiwa ini dikenai PPN.

Transaksi ini tidak mendapat fasilitas PPN tidak dipungut atau dibebaskan.

Besarnya PPN terutang atas penyerahan kulkas pada tanggal 3 Juli 2018 di Semarang dihitung oleh PKP PT Suka Maju di Semarang untuk dipungut dengan Faktur Pajak sebagai berikut:

Harga Jual/DPP PPN  x  Tarif PPN        = Rp6.000.000 x  10%

PPN terutang                                               = Rp   600.000

Bapak fauzan harus membayar ke PKP PT Suka Maju sebesar Rp6.600.000, yang terdiri atas harga kulkas Rp6.000.000 dan Pajak Pertambahan Nilai Rp600.000.

Jika di dalam harga jual atau penggantian atau nilai lain sudah termasuk PPN, perhitungannya sebagai berikut:

Pada tanggal 13 April 2018 PKP PT Pelita di Surabaya menerima tagihan jasa akuntansi termasuk Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp132.000.000 dari PKP PT Raya Semesta di Bandung yang memberikan jasa akuntansi.

Transaksi menagih jasa akuntansi di Bandung adalah penyerahan di dalam daerah pabean, jasa akuntansi adalah jasa kena pajak, yang memberikan jasa akuntansi adalah pengusaha kena pajak. Jadi transaksi itu dikenai Pajak Pertambahan Nilai.

Transaksi ini tidak mendapat fasilitas PPN tidak dipungut atau dibebaskan, sehingga besarnya PPN terutang atas penyerahan jasa akuntansi pada tanggal 13 April 2018 di Bandung dihitung oleh PKP PT Raya Semesta di Bandung untuk dipungut dengan Faktur Pajak sebagai berikut:

Harga jual termasuk Pajak Pertambahan Nilai = Rp132.000.000

DPP   =         100        x harga jual termasuk PPN

                 100 + %tarif PPN

            =       100       x Rp132.000.000

                    110

             = Rp120.000.000

PPN terutang = DPP PPN x Tarif PPN

= Rp120.000.000 x 10%

= Rp12.000.000

Jadi, PPN dipungut oleh PKP PT Bandung sebesar Rp12.000.000

Contoh Kasus 3:

Pada Oktober 2022, PT AAA  menjual tunai Barang Kena Pajak dengan Harga Jual Rp25.000.000 pada PT BBB.

Pajak Pertambahan Nilai yang terutang = 11% x Rp25.000.000 = Rp2.750.000

Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp2.750.000 tersebut merupakan Pajak Keluaran yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak PT AAA dari PT BBB.

Pajak Pertambahan Nilai: Tarif PPN Terbaru & Daftar Negatif List PPN

Saya Mau Coba Gratis Klikpajak Sekarang!

Selengkapnya cara menghitung PPN dan mengelola Faktur Pajaknya, baca Alur Pembuatan e-Faktur: Cara Bayar & Lapor SPT Masa PPN

Ketentuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Jasa Luar Negeri

Pada Pajak Pertambahan Nilai terdapat beberapa objek yang termuat di dalamnya seperti PPN dalam sektor ekspor dan impor Barang Kena Pajak (BKP).

Selain itu juga pemanfaatan Jasa Kena Pajak (JKP) baik dari dalam maupun luar Daerah Pabean atau Pajak Pertambahan Nilai atas Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean maupun PPN Jasa Luar Negeri.

a. Ketentuan Aturan PPN Jasa Luar Negeri

Selanjutnya, terdapat aturan tentang batasan untuk transaksi Jasa Kena Pajak dari luar negeri yang diatur dalam pasal 4 Ayat 1 SE-147/PJ/2010, bahwa Pajak Pertambahan Nilai akan dikenakan atas Jasa Luar Negeri dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Penyerahan dilakukan oleh Orang Pribadi atau Badan yang bertempat tinggal di luar Daerah Pabean.
  2. Pengenaan Jasa Luar Negeri dapat dilakukan di dalam maupun di luar Daerah Pabean, selama kegiatan pemanfaatan jasa tidak menyebabkan Orang Pribadi atau Badan yang bertempat tinggal di luar Daerah Pabean menjadi subjek pajak dalam negeri.
  3. Aktivitas pemanfaatan Jasa Luar Negeri dilakukan di dalam Daerah Pabean.
  4. Jasa Kena Pajak (JKP) dari luar negeri dimanfaatkan oleh siapapun dalam Daerah Pabean.
  5. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Jasa Luar Negeri tidak melihat status penggunanya, baik Orang Pribadi maupun Badan, atau telah menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) maupun belum.

Pajak Pertambahan Nilai Jasa Luar Negeri bisa terutang, sebab terjadi ketika pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sedang dalam proses pembayaran atau baru saja dimulai.

Dengan catatan pembayaran tersebut diterima sebelum penyerahan Jasa Luar Negeri.

Cara bayar dan setor PPN lebih mudah & cepat dalam satu platform langsung bayar melalui virtual account bank hanya di e-Billing Klikpajak by Mekari. Coba sekarang!

b. Ketentuan Waktu Pemanfaatan Jasa Luar Negeri

  1. Waktu pemanfaatan jasa merupakan saat dimana Jasa Luar Negeri tersebut digunakan secara nyata digunakan oleh pihak yang berkepentingan.
  2. Jasa Luar Negeri dinyatakan sebagai utang oleh pihak yang memanfaatkannya.
  3. Terjadi penggantian Jasa Kena Pajak ditagih oleh pihak yang menyerahkan.
  4. Harga perolehan Jasa Kena Pajak dibayar baik sebagian atau seluruhnya oleh pengguna.Ditandatanganinya kontrak dan perjanjian yang telah ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
  5. Pajak Pertambahan Nilai yang terutang atas penggunaan Jasa Luar Negeri harus disetor paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak.

c. Cara Menghitung PPN Jasa Luar Negeri

Cara menghitung PPN atas Jasa Luar Negeri yaitu:

Tarif PPN x jumlah yang seharusnya dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan Jasa Luar Negeri

Selain itu, cara tersebut dapat diterapkan antara pihak pemberi Jasa Luar Negeri dan pihak penerima sesuai kesepakatan.

Ketahui juga tentang Cara agar Barang Impor Bebas Bea Masuk

Contoh Kasus

Perusahaan BBB memiliki beban untuk membayar jasa tenaga ahli dari Singapura yang telah memberikan pelatihan pengembangan personality pada perusahaannya.

Harta tenaga ahli tersebut adalah sebesar Rp600.000.000.

Sementara tenaga ahli yang disebutkan meminta jumlah gaji yang diterima harus jumlah bersih termasuk potongan Pajak Pertambahan Nilai.

Tarif PPN yang digunakan sesuai RUU HPP yang sebesar 11%.

Sehingga dalam hal ini, Sobat Klikpajak dapat menerapkan rumus kedua yaitu 11/100 x Rp600.000.000, untuk menetapkan jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang menjadi beban dan harus dibayarkan untuk jasa tenaga kerja ahli tersebut.

Dari perhitungan tersebut, maka PPN atas pembayaran jasa tenaga ahli dari Singapura itu sebesar Rp66.000.000.

Baca juga tentang Jenis Eskpor Jasa Kena Pajak dengan Tarif 0% Pajak Pertambahan Nilai

Kapan saat Terutangnya PPN?

Saat terutangnya PPN adalah ketika transaksi barang/jasa kena pajak dalam tahap seperti berikut:

  1. BKP berwujud diserahkan langsung ke pembeli atau pihak ketiga untuk dan atas nama pembeli
  2. BKP berwujud/JKP diserahkan langsung ke penerima barang pemberian cuma-cuma, pemakaian sendiri, dan penyerahan antar cabang
  3. BKP berwujud diserahkan ke juru kirim atau pengusaha jasa angkutan (kurir)
  4. Penyerahan BKP berwujud berdasarkan hukum dan sifatnya berupa barang tidak bergerak terjadi saat penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai BKP berwujud tersebut
  5. Impor BKP yang terjadi saat BKP dimasukkan ke dalam daerah pabean
  6. Pemanfaatan BKP tidak berwujud/JKP dari luar pabean
  7. Perjanjian atau kontrak ditandatangani atau saat mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, sebagian, atau seluruhnya atas BKP tidak berwujud/JKP
  8. Harga atas penyerahan BKP berwujud atau tidak berwujud/JKP diakui sebagai piutang atau penghasilan, atau saat diterbitkannya Faktur Penjualan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum dan diimplementasikan secara konsisten

Buat e-Faktur dan Lapor SPT Masa PPN Langsung di Klikpajak by Mekari

Saya Mau Coba Gratis Klikpajak Sekarang!

Cara Lapor Pajak Pertambahan Nilai PPN

Itulah beberapa penjelasan penting mengenai Pajak Pertambahan Nilai terbaru dalam RUU HPP yang perlu Sobat Klikpajak ketahui.

Perlu diingat pula bahwa lapor Pajak Pertambahan Nilai atau lapor PPN tidak bisa lagi menggunakan e-Filing, melainkan harus lewat e-Faktur.

Bagaimana cara lapor Pajak Pertambahan Nilai?

Uuntuk mengetahui langkah-langkah cara lapor PPN, ikuti tutorial berikut ini:

Bicara tentang Pajak Pertambahan Nilai, maka tidak akan lepas dari yang namanya pembuatan Faktur Pajak.

Seperti diketahui, DJP telah mewajibkan pengguna e-Faktur untuk melakukan update e-Faktur 3.0 menggantikan e-Faktur 2.2 mulai 1 Oktober 2020.

Wajib Pajak (WP) Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang selama ini menggunakan aplikasi e-Faktur Client Desktop DJP, harus install dan download patch terbaru untuk update e-Faktur 3.0 pada perangkat komputernya agar bisa menggunakan aplikasi yang dilengkapi dengan fitur prepopulated ini.

Perhatikan, meskipun PKP pengguna e-Faktur Client Desktop sudah update e-Faktur 3.0, tapi tetap harus berpindah ke aplikasi e-Faktur Web Based DJP di web-efaktur.pajak.go.id saat akan melaporkan SPT Masa PPN.

Karena DJP telah menutup pelaporan SPT Masa di e-Filing dan e-SPT untuk melaporkan SPT Masa PPN.

DJP memindahkan platform pelaporan SPT Masa PPN ke aplikasi e-Faktur.

Jadi, ingat ya… lapor SPT Masa PPN tidak bisa lagi di e-Filing. Tapi wajib di e-Faktur.

Update sistem terbaru e-Faktur 3.0 DJP ini juga harus dilakukan pada server PJAP mitra resmi DJP, seperti Klikpajak.id.

Jadi, ketika Sobat Klikpajak menggunakan e-Faktur Klikpajak, bukan hanya dapat langsung memanfaatkan fitur prepopulated e-Faktur untuk kelola Faktur Pajaknya, tapi juga bisa lapor SPT Masa PPN di e-Faktur tanpa keluar atau pindah platform.

Ingin langsung menggunakan aplikasi e-Faktur 3.0 tanpa install aplikasinya? Langsung saja daftar dan aktifkan akun e-Faktur Sobat Klikpajak di https://my.klikpajak.id/register.

Kenapa urus Faktur Pajak lebih mudah di e-Faktur Klikpajak?

Melalui Klikpajak.id, Sobat Klikpajak dapat membuat berbagai macam Faktur pajak, mulai dari Faktur Pajak Pengganti, Retur, bahkan dapat menghapus draft Faktur Pajak, hingga bayar dan lapor SPT Masa PPN dengan langkah-langkah yang mudah hanya dalam satu platform.

Bahkan administrasi e-Faktur semakin cepat dan praktis karena Klikpajak.id terintegrasi dengan aplikasi akuntansi online Jurnal.id.

Sehingga Sobat Klikpajak dapat menarik data laporan keuangan yang akan dibuat Faktur Pajaknya dengan sangat mudah dan simpel.

Lihat beberapa tutorial penggunaan aplikasi e-Faktur Klikpajak berikut ini:

  1. Tutorial Membuat Berbagai Jenis Faktur Pajak di e-Faktur
  2. Cara Menggunakan Prepopulated Faktur Pajak Masukan di e-Faktur 3.0

Pajak Pertambahan Nilai: Tarif PPN Terbaru & Daftar Negatif List PPN

Saya Mau Coba Gratis Klikpajak Sekarang!

Cara Bayar/Setor PPN atau Pajak Pertambahan Nilai Mudah & Cepat

Setelah mengetahui tentang Pajak Pertambahan Nilai hingga tarif terbaru serta apa saja barang/jasa yang dikeluarkan dari daftar negative list PPN, berikut Sobat Klikpajak akan mengetahui cara setor atau bayar PPN dengan mudah dan cepat melalui e-Billing Klikpajak.

Ingat, sebelum bayar atau setor pajak ke kas negara, Sobat Klikpajak harus membuat yang namanya Kode Billing dari DJP terlebih dahulu sebagai syarat bayar pajak.

Setelah mendapatkan Kode Billing dari DJP, selanjutnya membayar/menyetor pajak melalui ATM, internet banking atau teller bank/pos persepsi.

Pengetahuan membayar pajak online bagi perusahaan mutlak diperlukan.

Karena dengan sistem bayar pajak online ini, proses pembayaran pajak Sobat Klikpajak akan menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih akurat.

Tahukah? Kini ada cara mudah dan cepat bayar/setor PPN terutang. Sobat Klikpajak dapat menyetorkan PPN terutang melalui halaman SPT Masa di e-Faktur Klikpajak.

Pajak Pertambahan Nilai: Tarif PPN Terbaru & Daftar Negatif List PPN

Saya Mau Coba Gratis Klikpajak Sekarang!

Urus Pajak Lainnya Mudah & Cepat dengan Fitur Lengkap Klikpajak by Mekari

Bukan hanya mudah membuat Faktur Pajak saja, melalui fitur lengkap Klikpajak by Mekari, Sobat Klikpajak juga dapat melakukan berbagai aktivitas perpajakan lebih efektif dan efisien, mulai dari hitung, bayar dan lapor pajak hanya dalam satu platform.

Selain fitur e-Faktur, apa yang akan Sobat Klikpajak dapatkan dari aplikasi pajak online berbasis web mitra resmi DJP ini?

Karena, jika ada cara praktis, kenapa harus menggunakan cara-cara yang menyita banyak waktu?

Kami memahami bagaimana kompleksitas mengurus administrasi perpajakan perusahaan.

Oleh karena itu, Sobat Klikpajak dapat menemukan semua kemudahan mengurus dan melakukan administrasi perpajakan melalui Klikpajak yang memiliki fitur lengkap.

Sobat Klikpajak dapat melakukana urusan perpajakan yang efektif melalui Fitur Lengkap Aplikasi Pajak Online Klikpajak by Mekari.

Sudah punya Akun Pajak Klikpajak? Selamat! Nikmati fitur lengkap aplikasi pajak online yang terintegrasi untuk kemudahan urus pajak perusahaan di mana saja dan kapan saja.

Saya Mau Coba Gratis Klikpajak Sekarang!

Kaitan Akuntansi Pajak dengan PPN Beserta Contoh Pencatatannya

Pada artikel kali ini, kita juga akan membahas mengenai kaitan Akuntansi Pajak untuk transaksi dengan jenis pajak pertambahan nilai beserta contoh pencatatannya.

Akuntansi Pajak PPN Keluaran

PPN Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut pada saat penjualan/penyerahan barang atau jasa kena pajak.

a. Penjualan Tunai

Apabila penjualan barang/jasa dilakukan secara tunai.

Contoh :

Pada tanggal 1 Juli 2018, PT Karimun menjual Barang Kena Pajak secara tunai seharga Rp6.000.000. Transaksi tersebut akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut:

Kas                                Rp6.600.000
     Penjualan                       Rp6.000.000
     PPN Keluaran               Rp600.000

b. Penjualan Kredit

Apabila penjualan barang/jasa dilakukan secara kredit.

Contoh :

Pada tanggal 1 Juli 2018, PT Karimun menjual Barang Kena Pajak secara kredit seharga Rp6.000.000. Transaksi tersebut akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut:

Piutang Dagang           Rp6.600.000
     Penjualan                          Rp6.000.000
    PPN Keluaran                   Rp600.000

c. Retur Penjualan Tunai

Apabila terjadi retur atas penjualan barang/jasa yang dilakukan secara tunai.

Contoh :

Pada tanggal 3 Juli 2018 barang yang dijual oleh PT Karimun pada tanggal 1 Juli 2018, dikembalikan karena rusak senilai Rp500.000. Transaksi tersebut akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut :

Retur Penjualan       Rp500.000
PPN Keluaran          Rp50.000
       Kas                              Rp550.000

d. Retur Penjualan Kredit

Apabila terjadi retur atas penjualan barang/jasa yang dilakukan secara kredit.

Contoh :

Pada tanggal 3 Juli 2018 barang yang dijual oleh PT Karimun pada tanggal 1 Juli 2018, dikembalikan karena rusak senilai Rp500.000. Transaksi tersebut akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut :

Retur Penjualan                Rp500.000
PPN Keluaran                   Rp 50.000
      Piutang Dagang                  Rp 550.000

Akuntansi Pajak PPN Masukan

PPN Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar perusahaan pada saat pembelian atau impor barang kena pajak, atau pada saat perusahaan menerima jasa kena pajak.

a. Pembelian Tunai

Apabila pembelian barang/jasa dilakukan secara tunai.

Contoh :

Pada tanggal 1 Juli 2018, PT Karimun membeli Barang Kena Pajak secara tunai seharga Rp6.000.000. Transaksi tersebut akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut :

Pembelian                   Rp6.000.000
PPN Masukan            Rp600.000
Kas                        Rp6.600.000

b. Pembelian Kredit

Apabila pembelian barang/jasa dilakukan secara kredit.

Contoh :

Pada tanggal 1 Juli 2018, PT Karimun membeli Barang Kena Pajak secara kredit seharga Rp6.000.000. Transaksi tersebut akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut :

Pembelian                  Rp6.000.000
PPN Masukan           Rp600.000
     Utang Dagang           Rp6.600.000

c. Retur Pembelian Tunai

Apabila terjadi retur atas pembelian barang/jasa yang dilakukan secara tunai.

Contoh :

Pada tanggal 3 Juli 2018 barang yang dibeli oleh PT Karimun pada tanggal 1 Juli 2018, dikembalikan karena rusak senilai Rp500.000. Transaksi tersebut akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut :

Kas                                 Rp550.000
     Retur Pembelian          Rp500.000
     PPN Masukan              Rp50.000

d. Retur Pembelian Kredit

Apabila terjadi retur atas penjualan barang/jasa yang dilakukan secara kredit.

Contoh :

Pada tanggal 3 Juli 2018 barang yang dijual oleh PT Karimun pada tanggal 1 Juli 2018, dikembalikan karena rusak senilai Rp 500.000. Transaksi tersebut akan dicatat oleh perusahaan sebagai berikut :

Utang Dagang              Rp550.000
       Retur Pembelian         Rp500.000
       PPN Masukan              Rp50.000

Akuntansi Pajak PPN Kurang/Lebih Bayar

Tata cara umum Pajak Pertambahan Nilai  adalah pengusaha kena pajak mengurangkan atau mengkreditkan pajak masukan dalam suatu masa dengan pajak keluaran dalam masa pajak yang sama. Apabila dalam masa pajak tersebut lebih besar pajak keluaran, kelebihan pajak keluaran harus disetorkan ke kas negara.

Sebaliknya, apabila dalam masa pajak tersebut pajak masukan lebih besar dari pajak keluaran, kelebihan pajak masukan dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya atau dimintakan restitusi.

a. PPN Kurang Bayar

Terjadinya PPN Kurang Bayar di karenakan PPN Keluaran lebih besar dari pada Masukan.

Contoh :

PPN Keluaran PT ABC di akhir periode Januari 2018 sebesar Rp15.000.
PPN Masukan PT ABC di akhir periode Januari 2018 sebesar Rp10.000
PPN Retur Pembelian PT ABC di akhir periode Januari 2018 sebesar (Rp 1.000)

Besarnya Pajak Pertambahan Nilai Kurang Bayar = Rp15.000 – (Rp10.000 – Rp1.000) = Rp6.000

Jurnal Penutup PPN Kurang Bayar

PPN Keluaran                    Rp15.000
PPN Retur Pembelian     Rp1.000
        Utang PPN                     Rp6.000
            PPN Masukan           Rp10.000

Jurnal Pembayaran

Utang PPN    Rp6.000
        Kas               Rp6.000

Nah, tarif terbaru berdasarkan RUU HPP, daftar negatif list, subjek, contoh hingga apa itu pengertian Pajak Pertambahan Nilai Atau PPN adalah berikut di atas! Semoga bisa berguna untuk Anda.

Kategori : Berita Regulasi

PUBLISHED13 Oct 2021
Fitriya
Fitriya

SHARE THIS ARTICLE: