Dokumen SSP sebagai Bukti Penyetoran Pajak Anda - Klikpajak

Dokumen SSP sebagai Bukti Penyetoran Pajak Anda

Salah satu kewajiban setiap wajib pajak (WP) adalah melakukan penyetoran pajak terutang. Dokumen atau formulir utama yang digunakan untuk melakukan penyetoran pajak terutang yaitu Surat Setoran Pajak (SSP). Apakah itu Surat Setoran Pajak? Berikut penjelasan lengkapnya untuk Anda.

Pengertian Surat Setoran Pajak

Formulir SSP

SSP (Surat Setoran Pajak) adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan oleh wajib pajak dengan menggunakan formulir atau dengan cara lain ke kas Negara melalui tempat pembayaran seperti kantor Pos, Bank Badan Usaha Milik Negara, Bank Badan Usaha Milik Daerah, dan lainnya yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Wajib pajak diharuskan terlebih dahulu untuk membuat SSP dan membawa SSP tersebut ke bank atau kantor pos sebelum membayar pajak.

Surat Setoran Pajak sangat penting keberadaannya karena berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak. SSP dianggap sah apabila sudah disahkan oleh pejabat kantor penerima pembayaran atau jika sudah divalidasi pembayarannya oleh pihak berwenang. Jadi, Surat Setoran Pajak adalah formulir yang penting, terutama bagi Anda yang telah membayar pajak dan ingin melaporkan pembayaran pajak untuk memenuhi kewajiban terhadap negara.

Jenis-Jenis Surat Setoran Pajak

Jenis-jenis Surat Setoran Pajak yang perlu Anda ketahui dan pahami di antara lain:

  1. SSP Standar adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak dan berfungsi untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke Kantor Penerima Pembayaran, dan digunakan sebagai bukti pembayaran dengan bentuk, ukuran, dan isi yang telah ditetapkan.
  2. SSP Khusus adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak terutang ke Kantor Penerima Pembayaran yang dicetak oleh Kantor Penerima Pembayaran dengan menggunakan mesin transaksi dan/ atau alat lainnya yang isinya sesuai dengan yang telah ditetapkan, dan mempunyai fungsi yang sama dengan SSP Standar dalam administrasi perpajakan.
  3. Surat Setoran Pabean, Cukai, dan Pajak dalam Rangka Impor (SSPCP) adalah SSP yang digunakan oleh Importir atau Wajib Bayar dalam rangka impor.
  4. Surat Setoran Cukai atas Barang Kena Cukai dan PPN Hasil Tembakau Buatan dalam Negeri adalah SSP yang digunakan oleh Pengusaha untuk cukai atas Barang Kena Cukai dan PPN hasil tembakau buatan dalam negeri.

Formulir Surat Setoran Pajak

Formulir SSP dibuat dalam rangkap 4 dengan rincian:

  • Lembar ke-1 : arsip Wajib Pajak
  • Lembar ke-2 : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)
  • Lembar ke-3 : dilaporkan oleh Wajib Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak
  • Lembar ke-4 : arsip Kantor Penerima Pembayaran

Apabila diperlukan, SSP dapat dibuat dalam rangkap 5 dengan peruntukan lembar ke-5 untuk arsip Wajib Pungut atau pihak lain sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

SSP digunakan untuk pembayaran atas semua jenis pajak, sedangkan pengadministrasian setiap jenis pajak secara terpisah dalam kas negara (APBN), maka perlu ada Mata Anggaran Penerimaan (MAP) untuk setiap jenis pembayaran pajak.  Satu formulir Surat Setoran Pajak hanya untuk pembayaran satu jenis pajak dan untuk satu Masa Pajak atau satu Tahun Pajak/Surat Ketetapan Pajak/Surat Tagihan Pajak dengan menggunakan satu Kode Akun Pajak dan satu Kode Jenis Setoran.

Keterangan dalam Formulir SSP Pajak

  • Kolom NPWP. Isikan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) yang Anda miliki.

Wajib Pajak yang belum memiliki nomor NPWP maka:

    • WP Badan: Nomor NPWP dapat diisi 01.000.000.0-XXX.000 (Huruf xxx dapat Anda isi dengan nomor KPP dari domisili Wajib Pajak)
    • WP Orang Pribadi: Nomor NPWP dapat diisi dengan 04.000.000.0-XXX.000 (bagian xxx dapat Anda isi dengan KPP dari domisili wajib Pajak)
  • Nama Wajib Pajak. Isikan nama wajib pajak sesuai dengan yang terdaftar.
  • Alamat Wajib Pajak. Isikan alamat domisli lengkap wajib pajak yang terdaftar dalam SKT (Surat Keterangan Terdaftar).
  • NOP. Isi sesuai dengan Nomor Objek Pajak yang didasarkan pada surat-surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) dari Pajak Bumi Terhutang (PBB).
  • Alamat OP. Alamat tempat Objek Pajak berdasarkan SPPT.
  • Kode Akun Pajak. Isi kolom ini dengan angka dari kode akun pajak untuk jenis-jenis pajak yang akan dibayarkan. Kode dapat dilihat di Tabel Kode Akun Pajak dan Kode Jenis Setoran yang terdapat di dalam lampiran Peraturan Direktur Jenderal Pajak PER- 31/PJ/2013.
  • Kode Jenis Setoran. Isi dengan angka untuk setiap pajak yang akan dibayarkan yang tertera dalam Tabel Kode Akun Pajak dan Kode Jenis Setoran.
  • Kolom Uraian Pembayaran. Kolom ini diisi sesuai dengan uraian yang terdapat dalam kolom “Jenis Setoran”. Perlu diketahui:
    • Khusus bagi PPh Final Pasal 4 ayat 2 mengenai transaksi Penyewaan Tanah dan Bangunan (PTB) yang disetorkan si penyewa juga dilengkapi nama penyewa.
    • Khusus bagi PPh Final Pasal 4 ayat 2 mengenai transaksi pengalihan Hak atas Tanah dan Bangunan (HTB) dilengkapi nama pembeli.
  • Masa Pajak. Beri tanda “X” atau silang di salah satu kolom masa pajak untuk waktu yang akan dibayarkan. Pembayaran lebih dari satu masa pembayaran pajak dapat dilakukan dengan memakai satu formulir SSP untuk satu masa pajak.
  • Tahun Pajak. Tahun terutangnya pajak.
  • Nomor Ketetapan. Nomor ketetapan yang ada di dalam Surat Ketetapan Pajak atau STP (Surat Tagihan Pajak).
  • Jumlah Pembayaran. Nilai atau angka pajak yang dibayarkan dengan nilai rupiah. Wajib pajak yang diharuskan membayar dalam uang dolar atau mata uang lain harus mengisinya secara lengkap hingga nilai sen.
  • Terbilang. Isi nilai pajak yang dibayarkan dengan tulisan huruf latin dengan berbahasa Indonesia.
  • Diterima Oleh Kantor Penerima Pembayaran: Bagian ini diisi dengan tanggal penerimaan saat Anda membayar pajak dari Kantor Penerima Pembayaran. Kemudian ditandatangani dan diisi dengan nama petugas penerima pembayaran. Lalu ditambah dengan cap atau stempel Kantor Penerima Pembayaran tempat Anda melakukan transaksi.
  • Wajib Pajak/Penyetor: Dapat diisi dengan tanggal dan tempat pembayaran, tanda tangan, kemudian tulis nama jelas dari Wajib Pajak atau penyetor dengan stempel.
  • Ruang Validasi Kantor Penerima Pembayaran: Bagian ini isi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) dan juga Nomor Transaksi Bank (NTB). Atau bisa juga dengan NTP atau Nomor Transaksi Pusat oleh Kantor Penerima Pembayaran Pajak Anda.

Bayar Pajak Sekarang Melalui e-Billing

Aplikasi pajak online (e-Billing) merupakan cara pembayaran online atas pajak terutang dengan mengisi Surat Setoran Elektronik (SSE) Pajak. SSP telah diganti dengan cara bayar pajak online termutakhir. Harapannya, wajib pajak akan semakin nyaman dan dimudahkan dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Sistem pembayaran pajak online yang mulai dikenalkan pada tahun 2013 ini, masih terbatas melayani jenis pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) saja. Kemudahan dalam menggunakan e-Billing adalah Anda dapat menunaikan pembayaran pajak selama 24 jam melalui ATM atau internet banking.

Kini wajib pajak tidak perlu repot dan mengeluh atas prosedur pemenuhan kewajiban pajak yang sebelumnya dianggap ribet dan memakan waktu lama. Dengan aplikasi pajak online, segala pelaksanaan perpajakan perusahaan Anda terlaksana secara instan dan terintegrasi. Penuhi kewajiban pajak Anda dengan aplikasi online pajak resmi, Klikpajak. Mulai dari menghitung, membayar hingga melapor pajak bisa Anda lakukan. Jangan sampai melewatkan kewajiban perpajakan Anda. Daftar sekarang di sini untuk lapor pajak aman, nyaman, dan gratis!


PUBLISHED09 May 2019
Ageng Prabandaru
Ageng Prabandaru

SHARE THIS ARTICLE: