- Pemilik NPWP memiliki hak atas pelayanan, perlindungan data, keberatan, restitusi, dan insentif pajak
- Wajib pajak harus menghitung, membayar, dan melaporkan pajak sesuai self assessment system
- SPT Tahunan tetap wajib dilaporkan selama NPWP aktif
- Pelaku usaha/badan memiliki kewajiban tambahan seperti pembukuan dan PST Masa
- Seluruh hak dan kewajiban diatur dalam UU KUP dan UU HPP
Ketika seseorang sudah memiliki NPWP, maka dan kewajiban setelah memiliki NPWP otomatis mulai bersaku sesuai sistem perpajakan Indonesia. Artinya, status tersebut bukan hanya sebatas terdaftar secara administratif, tetapi juga membawa tanggung jawab dan hak yang diatur dalam peratuhan perundang-undangan.
Masih banyak yang belum memahami konsekuensinya, seperti apakah langsung membayar pajak atau tetap harus lapor SPT meski penghasilan di bawah PTKP. Mekari Klikpajak akan mengulas tentang hak dan kewajiban perpajakan setelah memiliki NPWP untuk Anda.

Hak yang Dimiliki setelah Terdaftar NPWP
Memiliki NPWP tidak hanya berkaitan dengan kewajiban membayar pajak. Undang-undang juga memberikan sejumlah hak yang melindungi setiap wajib pajak dalam menjalankan administrasi pajaknya, di antaranya:
1. Hak Mendapatkan Layanan Perpajakan dan Akses Sistem Perpajakan
Setiap wajib pajak berhak memperoleh pelayanan, edukasi, serta informasi terkait administrasi perpajakan. Layanan ini dapat diakses melalui kantor pelayanan pajak (KPP) maupun secara digital melalui sistem pajak online, seperti e-Filing, e-Billing, dan layanan perpajakan lainnya.
2. Hak atas Kerahasiaan Data Perpajakan
Data yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT), termasuk informasi penghasilan, harta, dan kewajiban, dilindungi oleh undang-undang. DJP memiliki kewajiban menjaga kerahasiaan data pajak dan tidak dapat membocorkannya tanpa dasar hukum yang sah.
Perlindungan ini penting untuk menjaga keamanan informasi finansial, baik bagi wajib pajak orang pribadi maupun wajib pajak badan usaha.
3. Hak Mengajukan Keberatan, Banding, dan Gugatan
Dalam hal terjadi perbedaan pendapat atas hasil pemeriksaan atau penerbitan Surat Ketetapan Pajak (SKP), wajib pajak memiliki hak untuk mengajukan keberatan.
Jika keputusan keberatan belum memuaskan, tersedia mekanisme banding melalui Pengadilan Pajak sebagai bagian dari penyelesaian sengketa pajak.
Hak ini merupakan bentuk perlindungan hukum agar setiap wajib pajak mendapatkan kepastian dan keadilan dalam sistem perpajakan.
4. Hak atas Restitusi atau Kompensasi Pajak
Apabila terjadi kondisi lebih bayar pajak, misalnya karena kredit pajak lebih besar dibandingkan pajak terutang, wajib pajak dapat mengajukan restitusi pajak atau mengompensasikannya ke masa pajak berikutnya.
Proses ini diatur dalam ketentuan perpajakan dan mejadi bagian dari hak administratif yang dijamin dalam sistem self assessment.
5. Hak Memanfaatkan Insentif dan Fasilitas Pajak
Pemerintah secara berkala memberikan berbagai insentif perpajakan, seperti tarif PPh Final UMKM 0,5%, fasilitas PPN terentu, atau program relaksasi pajak. Wajib pajak yang memenuhi syarat berhak memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mendukung kelangsungan usaha dan meningkatkan kepatuhan.
Baca Juga: Panduan Cara Membuat NPWP Karyawan
Kewajiban setelah Memiliki NPWP
Selain memiliki hak, pemilik NPWP juga wajib menjalankan tanggung jawab perpajakan sesuai prinsip self assessment system, yaitu sistem di mana wajib pajak menghitung dan melaporkan pajaknya sendiri. Berikut ini beberapa kewajiban perpajakan setelah memiliki NPWP:
1. Menghitung Pajak Terutang secara Mandiri
Wajib pajak harus menghitung jumlah pajak penghasilan (PPh) yang terutang berdasarkan total penghasilan bruto, biaya yang dapat dikurangkan, serta penghasilan kena pajak.
Perhitungan ini mengacu pada tarif yang berlaku sesuai ketentuan dalam UU Pajak Penghasilan. Sistem ini menuntut ketelitian dalam pencatatan dan pengelolaan administrasi keuangan agar pelaporan pajak akurat.
2. Membayar atau Menyetor Pajak Tepat Waktu
Jika terdapat pajak terutang, pembayaran harus dilakukan sebelum jatuh tempo melalui sistem e-Billing pajak atau bank persepsi.
Keterlambatan pembayaran akan dikenakan sanksi bunga administrasi sesuai ketentuan dalam UU KUP. Pembayaran pajak tepat waktu menjadi indikator utama kepatuhan seorang wajib pajak.
3. Melaporkan SPT Tahunan
Setiap pemilik NPWP wajib menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan, meskipun statusnya nihil, selama masih memenuhi syarat sebagai subjek pajak. Batas waktu pelaporan 31 Maret untuk wajib pajak orang pribadi, dan 30 April untuk wajib pajak badan.
Pelaporan ini dapat dilakukan secara praktis melalui e-Filing, tanpa harus datang langsung ke kantor pajak.
4. Menyampaikan SPT Masa (jika Memiliki Kewajiban)
Bagi pelaku usaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) atau memiliki kewajiban pemotongan seperti PPh 21, 23, atau PPN, maka wajib menyampaikan SPT Masa setiap bulan.
Kewajiban ini berkaitan dengan peran sebagai pemotong atau pemungut pajak dalam sistem perpajakan nasional.
5. Menyelenggarakan Pembukuan dan Pencatatan
Wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas wajib membuat pembukuan pajak atau pencatatan yang tertib.
Dokumen tersebut harus disimpan sesuai jangka waktu yang ditentukan karena dapat diminta dalam proses pemeriksaan pajak. Pengelolaan pembukuan yang baik membantu meminimalkan risiko koreksi fiskal.
6. Melaporkan Perubahan Data Perpajakan
Perubahan alamat, jenis usaha, status pernikahan, atau struktur kepemilikan perusahaan wajib dilaporkan agar data dalam sistem administrasi DJP tetap akurat dan mutakhir.
Baca Juga: Cara Cek NPWP Perusahaan Online
Dasar Hukum Hak dan Kewajiban setelah Memiliki NPWP
Pengaturan hak dan kewajiban wajib pajak didasarkan pada beberapa regulasi utama, yaitu:
- UU KUP No. 28 Tahun 2007 beserta perubahan terakhir melalui UU HPP No. 7 Tahun 2021.
- UU PPh No. 36 Tahun 2008, yang mengalami perubahan dalam UU HPP.
Sanksi jika Tidak Memenuhi Kewajiban
Apabila kewajiban perpajakan tidak dijalankan, konsekuensinya dapat berupa:
- Denda keterlambatan SPT Tahunan
- Sanksi buanga atas keterlambatan pembayaran pajak
- Kenaikan pajak akibat pemeriksaan
- Sanksi pidana dalam kasus pelanggaran serius
Kepatuhan pajak sangat penting untuk menghindari risiko finansial dan hukum di kemudian hari.
Baca Juga: NPWP Cabang setelah Coretax: Apakah Masih Berlaku?
Kesimpulan
Memiliki NPWP berarti telah resmi menjadi bagian dari sistem perpajakan Indonesia dengan hak dan kewajiban yang diatur secara jelas dalam peraturan perundang-undangan. Hak tersebut mencakup perlindungan hukum, kerahasiaan data, restitusi pajak, serta akses layanan perpajakan digital.
Di sisi lain, kewajiban seperti menghitung pajak terutang, membayar tepat waktu, dan melaporkan SPT melalui sistem pajak online harus dijalankan secara konsisten. Dengan memahami hak dan kewajiban setelah memiliki NPWP secara menyeluruh, wajib pajak dapat menjalankan administrasi pajak secara tertib, aman, dan sesuai regulasi terbaru.
Permudah urusan pajak Anda bersama aplikasi pajak online Mekari Klikpajak. Hitung, bayar, dan lapor SPT bisa dilakukan online dalam satu platform resmi mitra resmi DJP, praktis, akurat, dan sesuai regulasi teraru.
Mekari Klikpajak adalah software manajemen pajak bisnis & karyawan bagian dari ekosistem software terintegrasi Mekari yang menyediakan fitur lengkap untuk kelola e-Faktur, e-Bupot Unifikasi, e-Bupot PPh 21/26, e-Billing, dan e-Filing, dengan proses otomatis karena terintegrasi dengan software akuntansi Mekari Jurnal dan software payroll HCM Cloud Mekari Talenta.

Saya Mau Coba Gratis Mekari Klikpajak Sekarang!
Database Peraturan JDIH BPK. “Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan“
Database Peraturan JDIH BPK. “Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan“
Database Peraturan JDIH BPK. “Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan“


