Ketahui Perbedaan Mendasar Pajak Penghasilan (PPh) Final dan Tidak Final

Ketahui Perbedaan Mendasar Pajak Penghasilan (PPh) Final dan Tidak Final

Berdasarkan sifat pemotongan atau pemungutannya, PPh dibedakan menjadi dua, yakni PPh Final dan Tidak Final. Pajak Penghasilan (PPh) merupakan pajak yang dikenakan kepada Orang Pribadi atau Badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu Tahun Pajak. Pajak Final merupakan pajak yang dikenakan dengan tarif dan dasar pengenaan pajak tertentu atas penghasilan yang diterima atau diperoleh selama tahun berjalan. PPh Final yang dipotong pihak lain maupun yang disetor sendiri bukan merupakan pembayaran di muka atas PPh terutang, melainkan merupakan pelunasan PPh terutang atas penghasilan tersebut, sehingga Wajib Pajak dianggap telah melakukan pelunasan terhadap kewajiban pajaknya.

Penghasilan yang dikenakan PPh Final tidak akan dihitung lagi di SPT Tahunan untuk dikenakan tarif umum bersama dengan penghasilan lainnya. PPh yang sudah dipotong atau dibayarkan tersebut juga bukan merupakan kredit pajak di SPT Tahunan. Secara sederhana, perbedaan PPh Final dan Tidak Final adalah PPh Final berarti pajak yang sudah selesai, sedangkan PPh yang bersifat Tidak Final berarti kebalikan dari PPh Final, yakni pajak yang belum selesai.

Perbedaan PPh Final dan Tidak Final

Kebijakan Pemerintah Mengenai PPN 0% dan Perluasan Segmen Industri Ekspor

Perbedaan PPh Final dan Tidak Final bisa dilihat misalnya terkait pengenaan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan. Adapun rinciannya sebagai berikut:

  1. Pada PPh Final, penghasilan tidak digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenai tarif umum dalam SPT Tahunan PPh Badan. Sedangkan, pada PPh Tidak Final penghasilan digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenai tarif umum.
  2. Pada PPh Final, biaya sehubungan untuk menghasilkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang dikenai PPh tidak dapat dikurangi. Sedangkan, pada PPh Tidak Final biaya tersebut dapat dikurangkan.
  3. Pada PPh Final, bukti potong PPh tidak dapat diperhitungkan sebagai kredit pajak bagi pihak yang dipotong dan atau dipungut. Sedangkan, pada PPh Tidak Final bukti potong dapat diperhitungkan sebagai kredit pajak bagi pihak yang dipotong atau dipungut.

Objek Pajak PPh Final

Yang termasuk Objek Pajak PPh Final menurut website pajak.go.id adalah sebagai berikut:

  1. PPh Final atas Bunga Deposito dan Tabungan  serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia.
  2. PPh Final atas Bunga Obligasi.
  3. PPh Final atas Diskonto Surat Perbendaharaan Negara (SPN).
  4. PPh Final atas Hadiah Undian.
  5. PPh Final atas Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek.
  6. PPh Final atas Penghasilan Perusahaan Modal Ventura dari Transaksi Penjualan Saham atau Pengalihan Penyertaan Modal pada Perusahaan Pasangan Usahanya.
  7. PPh Final atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.
  8. PPh Final atas Penghasilan dari Pengalihan Real Estate dalam Skema Kontrak Investasi.
  9. PPh Final atas Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi.
  10. PPh Final atas Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan.
  11. PPh Final atas Penghasilan Perusahaan Pelayaran Dalam Negeri.
  12. PPh Final atas Penghasilan Perusahaan Pelayaran dan/atau Penerbangan Luar Negeri.
  13. PPh Final atas Penghasilan Wajib Pajak Luar Negeri yang Mempunyai Kantor Perwakilan Dagang di Indonesia.
  14. PPh Final atas Selisih Lebih Penilaian Kembali Aktiva Tetap.

Objek Pajak PPh Tidak Final

Adapun Objek Pajak PPh Tidak Final adalah selain yang dikenakan PPh Final yakni sebagai berikut:

  1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh.
  2. Hadiah dari pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan.
  3. Laba usaha.
  4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta.
  5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak.
  6. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.
  7. Dividen.
  8. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak.
  9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
  10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
  11. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan Peraturan Pemerintah.
  12. Keuntungan selisih kurs mata uang asing.
  13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
  14. Premi asuransi.
  15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
  16. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.
  17. Penghasilan dari usaha berbasis syariah.
  18. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan.
  19. Surplus Bank Indonesia.

Demikian penjelasan singkat mengenai PPh final. Sehubungan dengan ketentuan PPh Tidak Final, Wajib Pajak diberikan kesempatan sampai akhir tahun buku untuk menuntaskan kewajiban perpajakannya. Wajib Pajak diperbolehkan untuk menghitung sendiri seluruh penghasilan dan biaya-biaya lainnya selama satu Tahun Pajak, untuk selanjutnya diperhitungkan dengan PPh Final yang sudah dibayarkan.

Sebagai Aplikasi Penyedia Jasa (ASP) resmi dari Dirjen Pajak, Klikpajak menyediakan berbagai layanan perpajakan yang membantu meringankan beban Anda dalam menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak dengan aman, mudah, dan praktis. Selain itu, Klikpajak juga menyediakan berbagai informasi perpajakan terbaru dalam membantu wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan. Daftar sekarang dan segera tuntaskan kewajiban perpajakan Anda dengan mudah lewat Klikpajak!

[adrotate banner=”6″]


PUBLISHED10 Jul 2019
Anthony Kosasih
Anthony Kosasih

SHARE THIS ARTICLE: