Bagaimana Mekanisme Pajak Perusahaan Rugi? Ini Jawabannya!

Bagaimana Mekanisme Pajak Perusahaan Rugi? Ini Jawabannya!

Dalam mengelola suatu perusahaan, tentunya Anda akan selalu dihadapkan dengan berbagai situasi bisnis, seperti adanya tantangan, hambatan, peluang, dan sebagainya. Dalam menjalankan bisnis, hanya ada tiga kemungkinan yang mungkin akan Anda hadapi, yakni memperoleh keuntungan, mengalami kerugian, ataupun tidak keduanya alias tidak untung, tapi juga tidak rugi. Hanya ada satu hal yang pasti yaitu siapapun yang menjalankan bisnis tentu ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, serta tidak mengalami kerugian. Namun, bagaimana jika Anda benar-benar mengalami kerugian? Sebuah perusahaan dapat dikatakan mengalami kerugian apabila penghasilan bersihnya negatif, yakni ketika jumlah penghasilan lebih kecil daripada jumlah biaya yang dikeluarkan.

Jika perusahaan rugi, bagaimana dengan urusan pajaknya? Apakah tetap harus membayar pajak?

Sebelum berbicara banyak mengenai pajak perusahaan rugi, ada baiknya Anda memahami terlebih dahulu bahwa kerugian dapat dihitung dengan dua metode, yakni secara komersial dan secara fiskal. Keduanya tidak selalu menghasilkan angka yang sama.

Penghitungan Komersial

Penghitungan secara komersial merupakan aktivitas untuk menyediakan informasi keuangan yang diperoleh melalui suatu proses akuntansi secara umum. Informasi tersebut diperlukan oleh setiap entitas usaha untuk mengetahui posisi dan hasil usahanya.

Penghitungan Fiskal

Penghitungan secara fiskal merupakan bagian dari akuntansi keuangan yang menekankan pada penyusunan laporan perpajakan (Surat Pemberitahuan (SPT)) dan pertimbangan konsekuensi perpajakan terhadap transaksi atau kegiatan perusahaan. Dengan kata lain, penghitungan fiskal bertujuan untuk menyediakan informasi keuangan perusahaan yang ditujukan secara khusus kepada otoritas pajak sebagai salah satu pemenuhan kepatuhan pajak (tax compliance). Penghitungan secara fiskal inilah yang nantinya digunakan sebagai Dasar Penetapan Pajak perusahaan tersebut.

Dalam beberapa kasus, ada penghasilan-penghasilan dan biaya-biaya yang secara komersial dihitung, namun secara fiskal tidak dihitung. Misalnya biaya rekreasi, biaya tersebut diakui secara komersial, namun tidak diakui secara fiskal. Dengan demikian, angka yang dihasilkan oleh penghitungan komersial dan penghitungan fiskal akan menunjukkan hasil yang berbeda.

Kompensasi Kerugian Fiskal

Dalam hal perusahaan yang melakukan pembukuan mengalami kerugian fiskal dalam suatu Tahun Pajak, maka kerugian fiskal tersebut dapat dikompensasi selama lima tahun berturut-turut dimulai sejak Tahun Pajak berikutnya.

Kompensasi kerugian tersebut tidak berlaku bagi Wajib Pajak yang keseluruhan penghasilannya bersifat Final dan atau bukan merupakan objek pajak. Selain itu, kerugian yang diderita dari luar negeri tidak dapat diikutsertakan dalam penghitungan kompensasi kerugian fiskal.

Contoh Kasus

Perusahaan ABC pada tahun 2017 mengalami kerugian fiskal sebesar Rp500 Juta, maka kerugian tersebut dapat dikompensasikan hingga tahun 2022, dengan rincian perhitungan sebagai berikut:

  • Tahun 2017 : kerugian fiskal = Rp500 Juta
  • Tahun 2018 : laba fiskal Rp100 Juta, maka kerugian fiskal tahun 2017 dapat dikurangkan, sehingga tersisa Rp400 Juta.
  • Tahun 2019 : rugi fiskal Rp50 Juta, sehingga pada tahun ini belum perlu membayar pajak. Sedangkan sisa kerugian fiskal tahun 2017 tetap Rp400 Juta, dan memiliki saldo rugi fiskal tambahan sebesar Rp50 Juta pada 2019. Keduanya tidak bisa digabungkan.
  • Tahun 2020 : memperoleh laba fiskal Rp150 Juta, maka laba ini akan digunakan untuk mengurangi kerugian fiskal tahun 2017, sehingga saldo rugi fiskal 2017 berkurang menjadi Rp250 Juta, dan saldo rugi fiskal 2019 tetap Rp50 Juta.
  • Tahun 2021 : memperoleh laba fiskal Rp50 Juta, maka saldo rugi fiskal tahun 2017 akan dikurangkan, sehingga menjadi Rp200 juta. Sedangkan rugi fiskal tahun 2019 jumlahnya tidak berubah.
  • 2022 : memperoleh laba fiskal Rp150 Juta, maka saldo rugi fiskal tahun 2017 akan dikurangkan kembali, sehingga tersisa Rp50 Juta. Sedangkan rugi fiskal tahun 2019 tetap Rp50 Juta.

Dari contoh perhitungan di atas, dapat dilihat bahwa saat tahun 2018, 2020, 2021, dan 2022 menghasilkan laba fiskal, kerugian tahun 2017 dapat dikompensasikan atau diperhitungkan. Pada tahun kelima yaitu tahun 2022, masih terdapat sisa kompensasi kerugian sebesar Rp50 Juta. Jumlah ini tidak dapat dikompensasikan lagi karena telah melewati batas waktu 5 tahun, sehingga sisa Rp50 Juta tersebut dapat dikatakan hangus.

Penghitungan rugi fiskal seperti yang dijelaskan di atas hanya digunakan oleh Wajib Pajak yang pengenaan pajaknya bukan digolongkan untuk dikenakan pajak secara Final yaitu PPh Pasal 4(2). Contoh yang akan dikenakan pajak secara Final yaitu seperti Wajib Pajak yang bergerak di bidang konstruksi, penjualan tanah dan bangunan, ataupun usaha kecil dengan omzet belum mencapai Rp4,8 Miliar per tahun.

Dengan demikian, perusahaan yang mengalami kerugian fiskal akan dibebaskan dari kewajiban pajak selama lima tahun berturut-turut apabila perusahaan tersebut belum memperoleh laba fiskal yang cukup untuk menutup kerugian tersebut sebagaimana contoh di atas. Sedangkan apabila perusahaan tersebut bisa menutup kerugian fiskal sebelum 5 tahun, maka harus memenuhi kewajiban pajak seperti biasanya.


PUBLISHED01 Nov 2018
Anthony Kosasih
Anthony Kosasih

SHARE THIS ARTICLE: