Bagaimana Aspek Pajak Akuisisi Perusahaan? Begini Jawabannya

Bagaimana Aspek Pajak Akuisisi Perusahaan? Begini Penjelasannya

Bagaimana sebenarnya aspek pajak akuisisi perusahaan? Berdasarkan UU Perseroan Terbatas (UU PT), akuisisi atau pengambilalihan merupakan perbuatan hukum yang dilakukan oleh Badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut.

Perseroan yang diambil alih sahamnya, status Badan hukumnya tidak berakhir atau dibubarkan, yang terjadi hanyalah beralihnya pengendalian perusahaan. Sedangkan aktiva dan pasiva perseroan yang diambil alih tetap ada pada perseroan yang diambil alih sahamnya.

2 Cara Akuisisi Suatu Perusahaan

1. Akuisisi Saham

Akuisisi saham adalah membeli saham perusahaan tersebut, baik dibeli secara tunai, ataupun menggantinya dengan sekuritas lain (saham atau obligasi). Ada kalanya, penawaran tersebut langsung dilakukan terhadap pemegang saham yang akan diambil alih.

Apabila perusahaan yang akan diambil alih terdaftar di bursa efek, maka upaya penguasaan terhadap 20% atau lebih saham perusahaan tersebut harus dilakukan dengan tender offer. Dengan cara ini, perusahaan yang mengambil alih (Misal PT Jaya) harus mengumumkan ke publik, dan menjelaskan bahwa PT Jaya akan membeli saham perusahaan lain (Misal PT Abadi) dengan harga tertentu, serta sejumlah lembar saham tertentu. Jika jumlah lembar saham yang ditawarkan oleh para pemegang saham PT Abadi melebihi jumlah yang akan dibeli PT Jaya, maka akan dilakukan penjatahan.

2. Akuisisi Aset

Suatu perusahaan dapat mengakuisisi perusahaan lain dengan jalan membeli aktiva perusahaan tersebut. Cara ini akan menghindarkan perusahaan dari kemungkinan memiliki pemegang saham minoritas, yang mana hal ini dapat terjadi pada peristiwa akuisisi saham. Akuisisi aset dilakukan dengan cara pemindahan hak kepemilikan aktiva-aktiva yang dibeli. Meskipun demikian, proses hukum pemindahan aktiva-aktiva tersebut dapat menjadi sangat mahal.

Berdasarkan keterkaitan operasinya, akuisisi perusahaan dibedakan menjadi tiga bentuk, yakni:
Akuisisi Horizontal. Akuisisi ini dilakukan terhadap perusahaan yang mempunyai bisnis atau bidang usaha sejenis. Perusahaan yang mengakuisisi dan yang diakuisisi bersaing untuk memasarkan produk yang mereka tawarkan.

Akuisisi Vertikal. Akuisisi ini dilakukan terhadap perusahaan yang berada pada tahap proses produksi yang berbeda. Misalnya, perusahaan rokok mengakuisisi perusahaan perkebunan tembakau.

Akuisisi Konglomerat. Perusahaan yang mengakuisisi dan yang diakuisisi tidak memiliki keterkaitan operasi. Misalnya, akuisisi perusahaan yang menghasilkan bahan makanan oleh perusahaan smartphone.

Aspek Pajak Akuisisi Perusahaan

Apabila suatu perusahaan mengakuisisi perusahaan lain, transaksi tersebut mungkin terkena pajak mungkin juga tidak. Dalam peristiwa taxable acquisition, pemegang saham dari perusahaan yang diakuisisi diperlakukan sebagai menjual saham yang mereka miliki, dan karenanya akan memperoleh capital gains atau capital loss yang akan dikenakan pajak. Dalam peristiwa akuisisi yang taxable, perusahaan yang mengakuisisi mungkin melakukan revaluasi atas aktiva tetap dari perusahaan yang diakuisisi.

Dalam peristiwa akuisisi yang tax-free, pemegang saham dari perusahaan yang diakuisisi dipandang hanya melakukan pertukaran saham dengan nilai yang sama, sehingga tidak memperoleh capital gains atau loss. Dalam transaksi yang tax-free, aktiva dari perusahaan yang diakuisisi tidak direvaluasi.

Akuisisi Sebagai Bentuk Penghematan Pajak

Salah satu tujuan suatu perusahaan melakukan akuisisi adalah untuk penghematan pajak. Adapun manfaat akuisisi dalam hal penghematan pajak dapat diilustrasikan seperti berikut ini:

Suatu perusahaan bernama PT Gula telah menderita kerugian sebesar Rp10 Miliar. Pemilik PT Gula kemudian menjual perusahaannya kepada perusahaan lain, dan diperlakukan sebagai penjualan aktiva. Dari hasil penjualan tersebut pemilik PT Gula mengakui memperoleh capital gain sebesar Rp10 Miliar, karena aktiva tetap dijual dengan harga Rp10 Miliar di atas nilai bukunya.

Namun, sebelumnya PT Gula telah menderita kerugian sebesar Rp10 Miliar, sehingga capital gains Rp10 Miliar tersebut akan menutup kerugian yang ada, dan pemilik PT Gula tidak perlu membayar pajak atas capital gains.

Perusahaan dapat membawa kerugian pajak sampai dengan 20 tahun ke depan atau sampai kerugian pajaknya dapat tertutupi. Perusahaan yang memiliki kerugian pajak dapat melakukan akuisisi dengan perusahaan yang menghasilkan laba, agar nantinya bisa dimanfaatkan untuk menutup kerugian pajak. Pada kasus ini, perusahaan yang mengakuisisi akan menaikkan kombinasi pendapatan setelah pajak dengan mengurangkan pendapatan sebelum pajak dari perusahaan yang diakuisisi.


PUBLISHED19 Nov 2018
Anthony Kosasih
Anthony Kosasih

SHARE THIS ARTICLE: