Usaha Warnet Sepi Peminat, Bagaimana Perlakuan Pajaknya?

Usaha Warnet Sepi Peminat, Bagaimana Perlakuan Pajaknya?

Sekitar awal tahun 2000an, usaha warung internet atau disingkat warnet bisa dibilang menjadi jenis usaha yang paling diminati banyak orang. Alasannya karena usaha ini mudah dilakukan, tidak memerlukan keahlian khusus, dan bisa menghasilkan keuntungan yang cukup besar. Terlebih apabila ada masalah dengan perangkat komputer, Anda hanya perlu menyewa jasa ahli saja.

Namun, sejak tahun 2010, usaha warnet mulai sepi peminat. Salah satu penyebabnya adalah adanya kemajuan pada sektor teknologi informasi dan komunikasi, di mana setiap orang sudah bisa menikmati kenyamanan berselancar di dunia internet hanya bermodalkan smartphone saja. Saat ini, usaha warnet yang masih memiliki pengunjung setia adalah warnet yang menawarkan berbagai fasilitas pendukung lainnya, misalnya menggunakan komputer dengan spesifikasi mumpuni, kecepatan internet yang tinggi, ataupun menyediakan layanan makanan dan minuman. Sehingga tidak heran, warnet yang saat ini masih bertahan adalah warnet khusus game online, yang biasanya menawarkan berbagai fasilitas di atas.

Penyebab Warnet Sepi Peminat

1. Komputer Memiliki Spesifikasi Rendah

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, orang pergi ke warnet tidak lagi untuk sekadar browsing saja, melainkan untuk bermain game online. Perlu diketahui, bahwa untuk bisa menjalankan sebuah game dengan lancar, maka PC harus memiliki spesifikasi yang cukup tinggi.

2. Kecepatan Internet yang Rendah

Selanjutnya, untuk bisa menunjang game online, bukan hanya membutuhkan spesifikasi komputer yang tinggi, tapi juga koneksi internet yang stabil dan cepat. Koneksi internet yang cepat dibutuhkan agar tidak terjadi delay saat bermain game online, karena rata-rata game online menggunakan sistem real time. Dengan kata lain, apabila internet lambat akan sangat berpengaruh pada performa permainan user itu sendiri.

3. Tempat Kurang Nyaman

Warnet khusus game online harus memperhatikan tingkat kenyamanan bagi user, karena rata-rata pemain game online menghabiskan waktu minimal 3 jam di depan komputer, sehingga mereka tentu akan mempertimbangkan warnet yang lebih nyaman.

4. Tidak Memiliki Fasilitas Pendukung Lainnya

Fasilitas pendukung lain yang dimaksud adalah adanya fasilitas yang menyediakan makanan dan minuman. Tidak perlu terlalu mewah, makanan instan seperti mie dan minuman botol atau kaleng bisa menjadi pilihan. Adanya fasilitas ini akan membuat pelanggan semakin betah berlama-lama di depan komputernya. Namun bila sebaliknya, akan mengurangi nilai jual dari warnet itu.

Ketentuan Pajak Usaha Warnet

Pajak usaha warnet termasuk ke dalam kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) Wajib Pajak sektor Telekomunikasi Informasi dan Komunikasi sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-321/PJ/2012. Adapun kode KLU yang berlaku adalah 6161924.

1. Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21)

PPh 21 dibebankan kepada Wajib Pajak Orang Pribadi atas usaha warnet, dengan perhitungan berdasarkan penghasilan. Adapun besaran tarif pajak sebagai berikut:

  • Kurang dari Rp50 Juta per tahun dikenakan tarif 5%.
  • Rp50 Juta sampai dengan Rp250 Juta per tahun dikenakan tarif 15%.
  • Rp250 Juta sampai dengan Rp500 Juta per tahun dikenakan tarif 25%.
  • Lebih dari Rp500 Juta per tahun dikenakan tarif 30%.

Pemotongan PPh 21 dilakukan dan dilaporkan setiap bulan sesuai dengan petunjuk pelaksanaan penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21 yang diatur dalam Keputusan Ditjen Pajak No. KEP-545/PJ./2000.

2. Pajak Penghasilan Pasal 23 (PPh 23)

Pada dasarnya PPh 23 akan dikenakan apabila usaha warnet Anda berbentuk Badan Usaha. Adapun pengertian dari PPh 23 adalah pajak yang dikenakan pada penghasilan atas modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, selain yang telah dipotong oleh PPh Pasal 21. Besaran tarif dari PPh 23 ini adalah 15% atau 2%, bergantung pada objek PPh 23 itu sendiri.

3. Pajak Penghasilan Pasal 25 (PPh 25)

Pada dasarnya PPh 25 adalah angsuran bulanan dari Pajak Penghasilan, tujuannya untuk meringankan beban pajak yang harus dibayarkan di akhir Tahun Pajak. Dalam PPh Pasal 25 ini, Wajib Pajak yang hanya menerima atau memperoleh penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan bersifat Final tidak diwajibkan melakukan pembayaran angsuran pajak.

4. Pajak Penghasilan Final (PPh Final)

PPh Final dikenakan atas penghasilan berdasarkan peredaran bruto (omzet) dalam satu Tahun Pajak, yakni sebesar Rp4,8 Miliar. Adapun tarif PPh Final untuk bisnis dengan omzet kurang dari Rp4,8 Miliar sesuai dengan PP Nomor 23 Tahun 2018 adalah 0,5%. Apabila Anda menggunakan mekanisme PPh Final, maka kewajiban pajak Anda dianggap telah selesai. PPh Final harus dibayarkan setiap bulan, maksimal pada tanggal 15 bulan berikutnya.

Yang juga harus diperhatikan adalah pemilihan lokasi untuk usaha warnet. Biasanya lokasi di dekat kawasan perumahan atau asrama mahasiswa akan lebih strategis, terutama bila Anda juga membuka fasilitas printing dan fotokopi. Jangan lupa saat usaha Anda sudah besar dan sukses, maka diharapkan pembayaran pajak usaha warnet juga tetap Anda kelola secara teratur.

Kategori : Pajak Bisnis

PUBLISHED07 Nov 2018
Anthony Kosasih
Anthony Kosasih

SHARE THIS ARTICLE: