Begini Sejarah dan Cara Perhitungan Pajak Usaha Walet

Begini Sejarah dan Cara Perhitungan Pajak Usaha Walet

Saat Anda mendengar “sarang burung walet”, pasti Anda akan langsung terpikir pada komoditas yang memiliki nilai jual tinggi yang laku sampai pasar internasional. Secara umum memang kebanyakan sarang burung walet diekspor ke luar negeri, terutama permintaan terbesar datang dari negara Tiongkok dan Cina. Memang untuk bahan baku sarang burung walet paling banyak ditemui di sekitaran Asia Tenggara saja. Itulah alasan menjadikan komoditas ini memiliki harga yang mahal dan pengenaan pajak usaha walet yang relatif tinggi.

Apabila Anda seorang pengusaha yang masih bingung menentukan bahan baku untuk Anda jadikan sumber usaha, mungkin sarang burung walet bisa menjadi salah satu rekomendasi untuk dicoba. Tentu saja sumber usaha yang satu ini memiliki pajaknya sendiri namun sebelum Anda mengetahui perhitungan pajak usaha walet secara lengkap, ada baiknya untuk mengetahui sejarah sarang burung walet terlebih dahulu.

Sejarah Sarang Burung Walet

Sarang burung walet dari zaman dahulu terkenal sebagai sajian mewah berupa sup yang bisa dinikmati oleh keluarga kerajaan saja. Dalam literatur pengobatan tradisional Cina, menyebutkan bahwa sarang burung walet memiliki khasiat untuk kebugaran tubuh dan resep perawatan kecantikan. Hingga sampai saat ini masih banyak yang percaya tentang khasiat yang dimilikinya, sehingga permintaan komoditi sarang burung walet masih menjanjikan sampai saat ini.

Pada awalnya pengambilan sarang burung walet dilakukan pada habitat aslinya yaitu di dalam gua atau sekitaran pinggir pantai yang memiliki tebing. Setiap pengambilan sarang burung walet memiliki resiko tinggi karena dilakukan dengan peralatan seadanya, karena memang sulitnya medan dan jauh dari tempat tinggal penduduk. Umumnya sarang burung walet menempel pada dinding-dinding gua dan tebing yang tinggi.

Saat ini sudah banyak yang melakukan penangkaran burung walet dengan mendirikan bangunan-bangunan yang menarik agar burung walet membuat sarang di sana. Selain itu, saat melakukan pengambilan sarang burung akan lebih mudah dan relatif lebih aman.

Perhitungan Pajak Usaha Burung Walet Anda

Saat ini, usaha sarang burung walet sudah termasuk Objek Kena Pajak, baik itu sarang burung walet yang diambil dari alam langsung atau sistem penangkaran yang dimiliki oleh perorangan atau Badan. Untuk besaran pajak sarang burung walet adalah 10% dari nilai jual sarang burung walet.

Dasar hukum yang menjadi landasan pemungutan pajak usaha walet adalah UU Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi.

Contoh Perhitungan Pajak Usaha Sarang Burung Walet

Walet Lovers adalah sebuah Badan Usaha penangkaran sarang burung walet di Gunung Kidul dengan rata-rata penjualan sarang burung walet per bulannya sebesar 15 kg. Untuk harga pasaran sarang burung walet saat ini sekitar Rp12 Juta per kilogram.

Maka pendapatan yang diperoleh Walet Lovers dalam sebulan adalah sebagai berikut:
(hasil sarang burung walet) X (harga jual) = 15 Kg x 12 Juta = Rp180 Juta
Pajak sarang burung walet = 24 Juta x 10% = Rp18.000.000,00

Nah, begitulah cara perhitungan pajak usaha sarang burung walet. Satu hal yang masih menjadi kendala saat ini adalah kesadaran pemilik usaha sarang burung walet. Terlebih lagi transaksi penjualan sarang burung walet masih dilakukan secara tradisional sehingga sulit untuk dilakukan pengawasan. Akhirnya, Pemerintah Daerah hanya mengandalkan kejujuran dan kesadaran dari pemilik usaha sarang burung walet untuk membayar kewajiban pajak usaha sarang burung walet.


PUBLISHED13 Nov 2018
Ageng Prabandaru
Ageng Prabandaru

SHARE THIS ARTICLE: