Apa Saja Tujuan, Keuntungan dan Kelemahan Revaluasi Aset bagi Perusahaan?

Apa Saja Tujuan, Keuntungan dan Kelemahan Revaluasi Aset bagi Perusahaan?

Revaluasi aset adalah penilaian kembali atas aset tetap perusahaan. Hal tersebut dilakukan karena adanya kenaikan nilai aset tetap tersebut di pasaran atau karena rendahnya nilai aktiva tetap dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh devaluasi atau sebab lainnya, sehingga nilai aset tetap dalam laporan keuangan perusahaan tidak lagi mencerminkan nilai yang wajar.

Melalui kebijakan revaluasi aset, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan pengurangan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 19 bagi Wajib Pajak Badan atau Perusahaan yang melakukan revaluasi atau penilaian kembali aktiva tetap. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.10/2015 Tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap untuk Tujuan Perpajakan bagi Permohonan yang Diajukan pada Tahun 2015 dan Tahun 2016.

Tujuan Revaluasi Aset

Tujuan utama penilaian kembali aset tetap perusahaan dimaksudkan agar perusahaan dapat melakukan penghitungan penghasilan dan biaya dengan lebih wajar, sehingga mencerminkan kemampuan dan nilai perusahaan yang sebenar-benarnya.

Alasan Wajib Pajak Perlu Melakukan Revaluasi Aset

  1. Meningkatkan nilai perusahaan.
  2. Meningkatkan biaya penyusutan aktiva tetap di masa datang.
  3. Meningkatkan keakuratan perhitungan penghasilan maupun biaya.
  4. Agar neraca perusahaan menunjukkan posisi kekayaan perusahaan yang sebenarnya.

Semua Wajib Pajak Badan dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT) dapat melakukan revaluasi aset. Aset tetap perusahaan yang bisa dinilai kembali adalah aset tetap yang terletak di Indonesia dan yang dimiliki serta dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak.

Penilaian kembali aset tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar aset tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali yang ditetapkan oleh perusahaan jasa atau ahli penilai yang diakui atau memperoleh izin dari pemerintah. Revaluasi perlu dilakukan secara teratur, sehingga nilai aset yang tercatat tidak berbeda jauh dengan nilai pasar atau nilai wajarnya. Revaluasi aset dilakukan berdasarkan perkembangan nilai wajar aset tetap.

Sebagai contoh, apabila harga tidak berubah terlalu signifikan, revaluasi aset bisa dilakukan tiga atau lima tahun sekali, namun apabila harga mengalami perubahan yang signifikan, revaluasi sebaiknya dilakukan setiap tahun.

Pengaruh Revaluasi Aset Tetap

  1. Memberikan informasi laporan keuangan yang menggambarkan keadaan ekonomi sebenarnya.
  2. Berpengaruh terhadap beban pajak PPh Badan, laporan keuangan komersial, arus kas, dan neraca.
  3. Sebagai rencana jangka panjang untuk tax planning.
  4. Akan diketahui laba/rugi revaluasi aset tetap yang menjadi bagian dari pendapatan komprehensif perusahaan.

Keuntungan Revaluasi Aset untuk Kepentingan Komersial

  1. Mencerminkan nilai wajarnya, sehingga perusahaan dapat lebih baik dalam pengambilan keputusan. Selain itu, revaluasi aset juga bisa menjadi bahan pertimbangan investor dalam melakukan investasi.
  2. Bagi perusahaan yang sudah go public, revaluasi berguna untuk menyusun nilai asetnya ke harga yang realistis.
  3. Meningkatkan kepercayaan kreditur akibat membaiknya beberapa rasio keuangan perusahaan, khususnya dalam debt to assets ratio, dan debt to equity ratio.
  4. Bagi perusahaan yang ingin melakukan merger, nilai aktiva tetap pada masing-masing perusahaan yang akan merger dapat diketahui nilai wajarnya, sehingga nantinya akan diketahui nilai aktiva sesungguhnya saat perusahaan tersebut telah melakukan merger.

Kelemahan Revaluasi Aset bagi Perusahaan

  1. Perusahaan sebenarnya tidak mendapatkan aliran kas masuk saat melakukan revaluasi aset, perusahaan hanya melakukan window dressing alias hanya mempercantik portofolio performa laporan keuangan sebelum ditampilkan ke klien atau pemegang saham.
  2. Jika terdapat selisih lebih atas revaluasi, perusahaan akan dikenai PPh Final sebesar 10% dan harus dibayar pada tahun tersebut dan tidak menghasilkan utang pajak tangguhan yang bisa dibalik di tahun berikutnya apabila nilai aset turun. Dengan demikian, apabila perusahaan melakukan revaluasi dan setiap tahun harganya meningkat, maka perusahaan harus membayar PPh Final 10% tiap tahun.
  3. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kenaikan nilai aset tersebut tidak memberikan aliran kas masuk ke dalam keuangan perusahaan. Ditambah lagi, untuk mengukur nilai wajar aset, perusahaan membutuhkan jasa penilai (assessor), sehingga akan menambah biaya pengeluaran. Ini menambah pemborosan bagi keuangan perusahaan.

 


PUBLISHED28 Sep 2018
Anthony Kosasih
Anthony Kosasih

SHARE THIS ARTICLE: