Mengenal Merchandise Inventory (Persediaan Barang Dagangan)

Merchandise Inventory adalah barang yang dimiliki oleh sebuah usaha tertentu atau perusahaan dengan cara membeli dari para pemasok atau membuat barang tersebut secara independen. Persediaan barang dagangan tersebut kemudian akan disimpan secara temporer oleh perusahaan untuk kemudian dijual kembali atau sebagai bahan baku produksi barang jadi yang akan dijual dalam periode selanjutnya.

Suatu perusahaan biasanya memiliki berbagai macam masalah yang sering dihadapi yang berkaitan dengan pengakuan atas persediaan barang dalam gudang perusahaan tersebut. Meskipun secara teori perusahaan telah mencatat perpindahan dari kepemilikan atas barang-barang yang mereka beli dan mereka jual kembali, namun kenyataan dalam lapangannya jauh berbeda dan tergolong sulit untuk diimplementasikan.

Kesulitan ini biasanya muncul dalam menentukan perpindahan atas hak kepemilikan suatu barang tersebut, misalnya saja pada saat klasifikasi persediaan di gudang yang mencakup barang yang dimiliki perusahaan, ada beberapa barang yang hilang dan tidak tercatat dimana barang tersebut berpindah kepemilikan. Ataupun sebaliknya, ada barang yang ada di gudang namun tidak ada catatan dari mana barang tersebut berasal.

merchandise inventory

Fungsi Merchandise Inventory

Persediaan barang dagang atau Merchandise Inventory ada untuk mengatasi beberapa hal tersebut. Metode yang ada dalam Merchandise Inventory membantu perusahaan dalam memantau dan mengecek jumlah persediaan barang dagangan mereka setiap akhir periode atau jangka waktu tertentu, misalnya saja setiap akhir tahun atau akhir bulan tergantung dengan peraturan dan kebijakan yang telah dibentuk oleh perusahaan tersebut sebelumnya.

Persediaan barang dagangan ini diklasifikasi menurut dengan karakter dari perusahaan itu sendiri, apakah perusahaan tersebut merupakan perusahaan manufaktur atau perusahaan dagang. Untuk persediaan barang dagang dalam perusahaan dagang, persediaan ini disebut dengan Merchandise Inventory dengan pengertian yang sudah disebutkan diatas.

Karakter utama dari persediaan barang dagang jenis ini adalah persediaan tersebut telah dimiliki oleh perusahaan dan siap untuk didistribusikan dan dijual ke konsumen kapan saja. Sedangkan untuk perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, maka persediaan barang tersebut disebut dengan manufacturing Inventory.

3 Inventory di Bidang Manufaktur

Perbedaan utama antara Manufacturing Inventory dengan Merchandise Inventory adalah persediaan barang ini merupakan barang mentah yang belum siap untuk dijual kepada pelanggan atau konsumen. Perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur sendiri biasanya memiliki tiga inventory atau persediaan barang yang berbeda, yaitu:

1. Finished Goods Inventory

Finished Goods Inventory adalah jenis persediaan barang yang telah selesai diproduksi dan siap untuk didistribusikan dan dijual ke konsumen jika dibutuhkan.

2. Work In Process Inventory

Work In Process Inventory merupakan jenis barang yang masih dalam proses produksi dan belum selesai serta siap untuk dijual.

3. Raw Material Inventory

Terakhir ada Raw Material Inventory yang merupakan bahan dasar dari produk siap jadi yang akan dibuat perusahaan.

Persediaan atau inventory sendiri mempunyai definisi sebagai aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha yang normal, aset dalam proses produksi atau dalam perjalanan, dan juga aset dalam bentuk bahan baku atau perlengkapan (Supplies) yang digunakan dalam proses produksi atau penyaluran jasa dari perusahaan tersebut. Jika dalam perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan, maka hanya ada satu klasifikasi persediaan yang tersedia, yaitu persediaan barang dagangan atau Merchandise Inventory.

Rumus Perhitungan Merchandise Inventory

Merchandise Inventory atau persediaan barang dagangan juga masuk dalam kategori aset lancar perusahaan. Artinya, produk atau barang yang ada di persediaan barang dagangan ini mempunyai manfaat dan mampu memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Untuk menghitung dan menilai Merchandise Inventory, ada rumus yang bisa diterapkan dengan cara mengalikan jumlah fisik dari produk di perusahaan tersebut dengan harga per unit atau per produknya atau sebagai berikut:

Nilai Merchandise Inventory = Jumlah Fisik x Harga Per Unit

Jumlah fisik yang dimaksud disini adalah jumlah produk atau barang perusahaan yang disimpan di dalam gudang. Misalnya saja, sebuah perusahaan A yang bergerak di bidang penjualan barang elektronik mempunyai 200 Televisi, 100 AC, dan juga 40 mesin cuci.

Nah, maka jumlah persediaan barang dagang yang ada di perusahaan adalah jumlah produk tersebut, dan dikalikan dengan harga per unitnya untuk mencari nilainya. Untuk bisa mengetahui harga barang per unitnya tersebut, biasanya perusahaan akan mematok harga berdasarkan asumsi LIFO, FIFO, atau Average.

Untuk bisa mengetahui jumlah fisik dari barang yang ada di gudang perusahaan, ada beberapa cara berbeda yang biasanya dilakukan. Dalam akuntansi persediaan barang dagangan sendiri, terdapat dua metode pencatatan yang berbeda untuk segala jenis transaksi yang berkaitan dengan persediaan barang dagang tersebut.

Metode pencatatan ini adalah akuntansi fisik dan juga akuntansi perpetual. Akuntansi fisik merupakan metode dimana cara perhitungan jumlah dan nilai dari persediaan barang dagangan tersebut hanya akan dilakukan pada akhir periode yang telah ditentukan oleh perusahaan saja, misalnya pada setiap akhir bulan atau akhir tahun.

Artinya, dalam setiap jangka waktu tersebut, perusahaan akan selalu membuat perhitungan untuk persediaan barang dagangan atau Merchandise Inventory yang ada di gudang. Metode yang kedua adalah akuntansi perpetual.

Jika dalam metode akuntansi fisik persediaan barang dihitung dalam jangka waktu tertentu secara konstan dan teratur, maka dalam metode ini perhitungan persediaan barang dagang hanya akan dilakukan setiap kali ada perubahan yang terjadi pada persediaan barang dalam gudang.

Kesimpulannya, setiap kali ada arus transaksi baik itu pembelian atau penjualan barang dalam gudang, maka akan langsung dilakukan perhitungan dan pencatatan. Berbagai macam transaksi yang berkaitan dengan persediaan barang dagang tersebut terdiri dari pembelian barang dagang, penjualan barang dagang, retur pembelian, retur penjualan, potongan pembelian, potongan penjualan, pembayaran beban angkut pembelian, pemberlakuan PPN dan PPnBM, dan juga pembayaran beban angkut untuk penjualan.

Lapor PPN lebih praktis dengan Web eFaktur dari Klikpajak. Coba Sekarang!

Dalam menggunakan metode akuntansi fisik atau yang sering disebut dengan sistem periodik (periodic Inventory system), rincian dari persediaan barang yang ada di gudang tersebut tidak disesuaikan secara terus-menerus dalam satu periode tertentu.

Namun, rincian dan harga pokok dari penjualan barang tersebut akan ditentukan pada akhir periode akuntansi yang telah ditetapkan oleh perusahaan sebelumnya. Pada saat waktu tersebut tiba, barulah perhitungan persediaan akan dilakukan untuk menentukan harga pokok dari barang yang masih tersedia.

Cara Mengecek Merchandise Inventory

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melihat Merchandise Inventory atau persediaan barang dagangan. Pengecekan ini biasanya dilakukan dengan berbagai cara berikut ini:

  • Melakukan cek fisik atau stock opname secara manual
  • Melihat kartu merchandise Inventory atau laporan persediaan barang dagangan

Pengecekan Merchandise Inventory atau persediaan barang dagangan ini perlu dan sangat penting untuk dilakukan agar tidak terjadi kehilangan produk yang disebabkan oleh kecurangan beberapa pihak dalam perusahaan dalam melakukan pembelian atau penjualan produk tersebut.

Metode Pengiriman Merchandise Inventory

Kepemilikan dari barang dagangan perusahaan dan biaya dari pengangkutan barang tersebut terbagi dalam dua metode yang berbeda, yaitu metode FOB Shipping Point dan juga FOB Destination. Berikut ini adalah penjelasan dari kedua metode pengiriman Merchandise Inventory tersebut:

1. Free On Board (FOB) Shipping Point

Free On Board Shipping point adalah sebuah metode pengiriman barang dagangan perusahaan dimana pembeli yang akan menanggung semua biaya dan resiko pengiriman barang tersebut setelah keluar dari gudang penjualan perusahaan.

2. Free On Board (FOB) Destination

Free On Board Destination merupakan sebuah metode kedua dimana penjual yang akan menanggung semua biaya dan resiko pengiriman barang tersebut mulai dari saat barang keluar dari gudang penyimpanan sampai barang tersebut ke tangan pembeli yang bersangkutan.

Metode Penilaian Merchandise Inventory

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penilaian barang persediaan dari perusahaan terbagi menjadi tiga metode yang berbeda, yaitu:

1. First in First Out (FIFO)

First in First Out atau biasa disingkat dengan FIFO merupakan sebuah metode penilaian persediaan barang dagangan dimana barang yang masuk pertama harus keluar pertama juga. Artinya, barang yang telah masuk ke perusahaan tersebut pertama kali juga akan dijual pertama kali. Metode ini mempunyai keuntungan dimana tidak akan ada barang yang akan terbengkalai dalam waktu yang lama di gudang tersebut. Karena barang yang terbengkalai ini, terutama jika barang tersebut adalah barang elektronik, mempunyai potensi untuk rusak.

2. Last in First Out (LIFO)

Last in First Out adalah sebuah metode penilaian persediaan barang dagangan dimana barang yang terakhir masuk akan dikeluarkan pertama. Maksudnya adalah barang yang paling akhir masuk kedalam gudang akan dikeluarkan dan dijual terlebih dahulu daripada barang-barang yang lebih dulu masuk ke gudang.

3. Average Method atau Penilaian Rata-Rata

Dalam metode ini, perhitungan harga barang yang akan dikeluarkan atau dijual kepada konsumen didasarkan pada rata-rata harga stok dari barang baru maupun barang lama yang telah masuk ke dalam gudang perusahaan.

Dalam melakukan perhitungan persediaan barang dagang tersebut, ada dua kelompok buku besar yang bisa menjadi patokan, yaitu Buku Besar Umum atau General Ledger dan juga Buku Besar Pembantu atau Subsidiary Ledger. Buku besar pembantu atau Subsidiary Ledger sendiri mempunyai tiga jenis yang berbeda, yaitu:

  • Buku besar pembantu piutang
  • Buku besar pembantu utang
  • Buku besar pembantu persediaan

Cara Menentukan Jumlah Merchandise Inventory

Untuk menentukan jumlah fisik dari Merchandise Inventory atau persediaan barang dagang yang dimiliki dan ada di gudang perusahaan, maka ada dua hal penting yang perlu untuk diperhatikan. Hal yang pertama adalah menghitung persediaan fisik tersebut dengan melakukan berbagai teknik seperti penimbangan, penjumlahan, dan juga pengukuran persediaan yang ada di gudang tersebut atau tempat penyimpanan lain yang dimiliki oleh perusahaan.

Hal yang perlu untuk diperhatikan kedua adalah menentukan kepemilikan dari barang yang ada di perusahaan tersebut. Misalnya saja dengan melihat apakah ada barang di gudang perusahaan yang bukan milik perusahaan tersebut atau sudah berpindah kepemilikan dan juga apakah ada barang milik perusahaan yang tidak ada di gudang atau hilang dari tempat penyimpanan. Kepemilikan barang ini bisa ditelusuri oleh perusahaan dengan cara melihat apakah terdapat perjanjian goods in transit atau consigned goods.

1. Goods in Transit

Goods in transit adalah sebuah istilah dimana terdapat barang yang memang tidak bisa ditemukan di dalam gudang atau tempat penyimpanan lain dari perusahaan. Namun, tidak adanya barang di gudang tersebut bukanlah karena hilang atau tidak tercatat kapan keluarnya, namun masih dalam perjalanan menuju tempat penyimpanan tersebut.

Misalnya saja masih di dalam kargo truk, kapal, kereta api, pesawat, maupun alat transportasi pengangkut barang lainnya. Jika hal ini terjadi, maka perusahaan juga perlu memperhatikan syarat dari penjualan dan pembelian barang tersebut apakah menggunakan Free On Board (FOB) Shipping Point atau Free on Board (FOB) Destination seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

2. Consigned Goods

Consigned Goods atau sering disebut dengan barang konsinyasi adalah sebuah kondisi dimana terdapat barang di dalam gudang perusahaan, namun barang tersebut bukan milik dari perusahaan. Barang ini biasanya merupakan barang titipan yang dititipkan di gudang perusahaan dan akan dikecualikan dalam perhitungan persediaan akhir.

Pada persediaan barang dagang atau Merchandise Inventory, perusahaan perlu melakukan pengelolaan persediaan supaya persediaan barang tersebut tetap terjaga kualitas dan juga kuantitasnya. Hal ini berguna untuk melindungi persediaan di gudang perusahaan tersebut mengalami kerusakan atau hilang yang menyebabkan perusahaan menjadi merugi.

Perusahaan harus memperhatikan secara khusus terkait kecukupan persediaan dan diperlukan adanya analisa kembali terkait kebutuhan dan juga kecukupan dari persediaan tersebut hingga batas seperti apa persediaan itu akan dijaga oleh perusahaan. Dalam mengelola persediaan di gudang tersebut, perusahaan biasanya akan menggunakan rasio untuk menganalisis perputaran barang persediaan dalam satu periode atau jangka waktu tertentu.

Biasanya, rasio yang digunakan oleh perusahaan adalah analisis inventory turnover ratio yang memiliki rumus sebagai berikut:

Inventory turnover ratio (rasio perputaran barang persediaan) : Cost of Goods Sold / Average Inventory

Days in inventory (hari barang persediaan berada di gudang) : 365 days / Inventory Turnover Ratio

Perusahaan perlu untuk memperhatikan dan menganalisis hasil perhitungan menggunakan rumus rasio yang ada di atas. Misalnya saja jika Inventory turnover ratio menunjukkan angka yang tinggi atau days in inventory yang rendah, maka hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai investasi barang persediaan yang minimum di gudang mereka.

Meskipun angka inventory turnover ratio yang tinggi bisa menunjukkan tingkat efisiensi dari perusahaan tersebut, namun angka yang terlalu tinggi juga bisa mengindikasikan bahwa perusahaan bisa saja akang kekurangan persediaan di beberapa waktu mendatang, yang menyebabkan perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk melakukan lebih banyak penjualan dan mendapatkan keuntungan.

Jadi, jika angka dalam inventory turnover ratio terlalu tinggi, perusahaan harus buru-buru menambah persediaan baru agar nantinya tidak terjadi kekurangan persediaan, yang bisa menyebabkan banyak pelanggan yang lari dan pindah ke perusahaan lain dibidang serupa yang memiliki persediaan lebih banyak.

Selain itu, perusahaan juga perlu untuk melakukan pengendalian inventory dalam gudang secara internal seperti melakukan stock opname secara rutin pada setiap periode atau jangka waktu yang telah ditentukan, melakukan pembatasan pada akses menuju gudang dengan cara menentukan pihak-pihak berkepentingan mana saja yang bisa mengakses gudang tersebut.

Kelola bukti potong pajak lebih praktis dengan eBupot dari Klikpajak. Coba Sekarang!

Menggunakan teknologi seperti memasang pintu dengan keamanan yang bagus dan juga memasang CCTV, serta yang paling penting adalah mencatat barang yang masuk dan keluar secara rinci dan melakukan pengecekan terhadap laporan tersebut dengan jumlah barang yang ada di gudang secara rutin.

Jika hal ini sampai ada yang dilewatkan, maka perusahaan bisa berpotensi mengalami kekurangan persediaan barang di gudang jika sewaktu-waktu tingkat penjualan barang tersebut sedang dalam keadaan yang tinggi dan permintaan meningkat secara pesat. Jika tidak ada kontrol yang tepat terhadap persediaan barang dagang atau Merchandise Inventory dalam perusahaan secara tepat, maka perusahaan bisa berpotensi mengalami kerugian karena sistem pengendalian internal dari persediaan barang tersebut yang kurang baik.

Manfaat Mengatur Merchandise Inventory

Berikut manfaat jika merchandise inventory dikelola dengan baik:

  • Pemeriksaaan terhadap kuantitas stok yang disimpan oleh perusahaan menjadi lebih mudah untuk dilakukan dan lebih efisien
  • Meminimalisir adanya resiko kekurangan persediaan barang di gudang akibat dari naiknya permintaan konsumen atau keterlambatan pengirim barang ke gudang
  • Lebih mudah dalam mengidentifikasi barang dagang mana yang memiliki permintaan paling tinggi dari konsumen, yang pengambilan keputusan untuk menambah persediaan dari barang tersebut bisa dilakukan dengan lebih tepat dan akurat
  • Flow atau arus keluar masuk barang dagang perusahaan menjadi lebih rapi dan teratur, sehingga bisa meminimalisir adanya penumpukan barang di gudang
  • Bisa menjadi sebuah langkah antisipasi terhadap anomali permintaan dari konsumen yang biasanya berubah-ubah
  • Bisa menjadi sebuah acuan yang digunakan sebagai pedoman strategi penjualan dalam perusahaan selanjutnya, misalnya saja seperti membuat quantity discount
  • Mengurangi potensi adanya barang yang keluar yang tidak tercatat yang menyebabkan perusahaan merugi
  • Mencatat informasi jika ada barang di gudang perusahaan yang merupakan barang titipan dan bukan milik dari perusahaan
  • Mengurangi adanya kecurangan dari beberapa pihak didalam perusahaan, karena semua arus barang yang masuk dan keluar telah tercatat
  • Bisa menjaga perusahaan agar tidak kekurangan maupun kelebihan stok yang bisa menambah biaya perawatan perusahaan tersebut
  • Mencatat keuangan dari barang yang masuk dan keluar dengan lebih akurat
Kategori : Tips Pajak

PUBLISHED06 Sep 2022
Mochammad Fadhil
Mochammad Fadhil

SHARE THIS ARTICLE: