Kiat Pimpinan Agar Pegawai Dapat Mengisi Contoh SPT dengan Benar

Kiat Pimpinan Agar Pegawai Dapat Mengisi Contoh SPT dengan Benar

Sebagai pimpinan, tentu Anda memiliki tanggung jawab akan segala aspek di dalam perusahaan Anda termasuk masalah perpajakannya. Selain memahami pentingnya membayar pajak Badan, pajak Wajib Pajak Orang Pribadi yang dikenakan pada pegawai juga menjadi salah satu hal yang penting Anda pertimbangkan. Ini karena banyak pegawai yang masih tidak mengerti prosedur perpajakan bahkan tidak memiliki NPWP ketika memutuskan untuk bekerja di perusahaan. Dengan peran Anda sebagai pimpinan, Anda dapat melakukan edukasi terhadap para pegawai yang sama sekali tidak mengerti dengan peraturan perpajakan, dalam hal ini adalah pengisian contoh SPT.

Memang seorang pegawai yang memiliki penghasilan di atas Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP) wajib membayar pajak sesuai ketentuan yang berlaku. Pegawai atau karyawan ini disebut Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP). Setiap 1 tahun sekali,  WPOP wajib melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) Pribadi. Selain lewat cara manual, kini pelaporan SPT Pajak Penghasilan Pribadi sangat mudah dan praktis lewat online melalui e-Filing (electronic Filing).

Kiat Pimpinan Membantu Pegawai Mengisi SPT Orang Pribadi

Dalam formulir SPT Orang Pribadi memang terdapat banyak kolom yang apabila disimak oleh pegawai yang baru pertama kali mengisinya, mereka akan merasa bingung. Langkah-langkah berikut dapat dilakukan pimpinan supaya pegawainya dapat melakukan pengisian SPT secara benar:

1. Merekomendasikan Training Pajak dan Pengisian SPT

Ada banyak training pajak yang tersedia dalam berbagai kelas pelatihan baik dalam beberapa sesi atau hanya satu kali pertemuan. Ada yang berbiaya, ada juga yang gratis. Pimpinan dapat merekomendasikan training pajak ini bukan hanya untuk karyawan yang mengurusi keuangan, tapi untuk semua pegawai secara umum. Tujuannya tentu saja agar mereka dapat lebih mengerti tentang perpajakan selaku Wajib Pajak Orang Pribadi dan juga ikut berkontribusi dalam perpajakan untuk negara. Dengan mengikuti kelas pelatihan pajak juga membuat pegawai tidak bingung saat melakukan pengisian contoh SPT.

2. Pastikan Pegawai Sudah Melakukan Pendaftaran dan mendapatkan e-FIN untuk e-Filing

Sebagai pimpinan, Anda dapat memastikan pegawai sudah melakukan langkah pertama yaitu mendaftarkan diri terlebih dahulu. Pendaftaran tersebut bisa dilakukan di laman https://djponline.pajak.go.id/account/login.

Setelah melakukan pendaftaran online, maka pegawai Anda akan mendapatkan e-FIN (Electronic Filing Identification Number). e-FIN merupakan nomor identifikasi Wajib Pajak dari Ditjen Pajak untuk melakukan pelaporan pajak secara online atau e-Filing. e-FIN ini akan dikirimkan ke email yang telah pegawai Anda daftarkan. Apabila sebelumnya pegawai Anda sudah mendaftar e-Filing namun lupa, pegawai Anda bisa cek kembali email dari Ditjen Pajak yang sebelumnya sudah masuk. Atau mereka juga bisa mendatangi Kantor Pelayanan pajak (KPP) terdekat dengan membawa NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan mengisi formulir aktivasi e-FIN.

3. Pastikan Pegawai Membuat SPT Dengan Benar

Apabila sudah melakukan registrasi, pegawai dapat mulai membuat SPT . Pegawai bisa membaca setiap petunjuk yang telah disediakan. Ikuti langkah selanjutnya dan jawablah pertanyaan dengan tepat atau sesuai dengan yang sebenarnya, hingga semua pertanyaan selesai terjawab. Kemudian pegawai harus memilih formulir yang akan Anda gunakan. Sebagai contoh, jika gaji pegawai Anda di atas Rp60 Juta per tahun, maka akan muncul informasi SPT 1770S yang siap pegawai Anda klik. Jangan lupa pilih “Tahun SPT Pajak”, lalu pilih status SPT di “Normal”, dan klik “Langkah Berikutnya”. Pegawai dapat melakukan pembuatan SPT secara perlahan apabila takut terjadi kesalahan dalam pengisiannya.

4. Jangan Melupakan Bagian Kolom Harta/Isi Lampiran I 

Pembahasan contoh SPT Orang Pribadi memiliki kaitan dengan pengisian bagian kolom Harta. Kolom Harta ini merupakan hal yang paling krusial karena akan menentukan keberhasilan pengisian atau pelaporan SPT Tahunan Pajak pegawai Anda. Seringkali, pelaporan SPT gagal submit karena kolom Harta ini terlewatkan. Sistem pajak dan perbankan serta lembaga keuangan sekarang ini sudah terintegrasi, sehingga pegawai Anda tidak bisa mengelak. Jika penghasilan pegawai Anda di atas PTKP, maka sangat mungkin ia memiliki sejumlah harta lain seperti deposito, investasi, tabungan, atau uang tunai yang tersimpan di rumah, dan lainnya.

a. Maka pastikan pegawai Anda menjawab “Ya”pada halaman pertanyaan “Apakah Anda Memiliki Harta?”.

b.  Kemudian klik icon Tambah+ di pojok kanan atas. Berikutnya akan muncul kolom baru yang harus pegawai Anda isi dengan benar.

c. Jika pegawai Anda mempunyai tabungan, uang tunai bahkan piutang sekalipun, isilah jumlah nominalnya dengan benar.

d. Kemudian ketikkan keterangan Harta. Misalnya jenis harta pegawai Anda adalah tabungan, maka beri keterangan Simpanan atau lainnya. Kemudian klik “Simpan”. Jika tidak ada tambahan harta lainnya, karena memang penghasilan pegawai Anda di bawah PTKP, maka bisa langsung melanjutkan ke langkah berikutnya.

e. Pada halaman berikutnya ada pertanyaan “Apakah Anda memiliki Utang?” Bila pegawai Anda memang mempunyai utang, sebutkan saja apakah itu KTA, KPR, dan lainnya kecuali kartu kredit.

5. Sediakan Konsultan untuk Menjawab Pertanyaan Pegawai

Apabila pegawai banyak bertanya tentang perpajakan, cara membayar, SPT dan ketentuannya, mungkin peran konsultan bisa banyak membantu untuk menjawab pertanyaan pegawai. Pegawai memiliki beragam latar belakang seperti misalnya status kawin atau tidak kawin, perbedaan gaji dan lain-lain. Peran konsultan atau satu orang di perusahaan yang memiliki pengetahuan seputar keuangan dan perpajakan dapat membuat beban pegawai menjadi lebih ringan.

Demikian penjelasan tentang pelaporan SPT Pajak Pribadi ini yang setiap tahunnya memiliki batas waktu terakhir paling lambat per 31 Maret. Sebagai pimpinan, adanya edukasi dan bimbingan mengenai aspek perpajakan akan banyak membantu pegawai meskipun dengan cara yang paling sederhana. Bimbingan ini dibutuhkan agar pegawai jangan sampai terkena denda atau beban lain di kemudian hari.


PUBLISHED22 Oct 2018
Ageng Prabandaru
Ageng Prabandaru

SHARE THIS ARTICLE: