Klikpajak by Mekari

Gaji Prorata: Pengertian, Cara Menghitung, dan Contohnya

Apa yang dimaksud dengan gaji prorata? Gaji prorata adalah bayaran atau upah awal yang diterima oleh seorang karyawan dengan jumlah yang tidak sesuai. Istilah ini sudah sering didengar oleh para karyawan di setiap perusahaan Indonesia.

Biasanya, gaji prorata seperti ini akan diberikan kepada para karyawan baru yang belum mendapatkan gaji penuh, karena jumlah hari kerja yang mereka miliki belum genap satu bulan. Jadi, pihak manajemen perusahaan bisa melakukan cara ini untuk memberi gaji karyawan yang baru bekerja.

Namun, gaji prorata harus diberikan dengan perhitungan yang tepat. Untuk itu, Anda tidak hanya perlu memahami pengertiannya saja, tapi Anda juga perlu memahami cara menghitungnya dengan baik. Dalam hal ini, di sini kami akan membahasnya secara lengkap.

gaji prorata

Pengertian Lengkap Gaji Prorata

Istilah prorate atau prorata itu sendiri berasal dari bahasa Italia yang memiliki arti proporsional. Jadi, jika dijelaskan secara singkat, maka pengertian dari gaji prorata adalah upah yang dapat diterima oleh seorang karyawan dari perusahaan secara proporsional.

Maksud dari kata proporsional di sini adalah sesuai dengan waktu kerja yang sudah dijalani oleh karyawan tersebut. Nantinya, jumlah gaji yang akan diterima oleh seorang karyawan baru akan disesuaikan dengan waktu kerjanya selama satu bulan. Jadi, setiap karyawan baru akan berbeda.

Semakin banyak jumlah waktu kerja yang telah Anda jalani, dapat membuat jumlah gaji prorata yang bisa Anda peroleh semakin tinggi. Namun, jika waktu kerja Anda sendiri masih terlalu sedikit, maka Anda tidak boleh mengharapkan gaji yang lebih besar dari waktu kerja tersebut.

Para karyawan akan memiliki kontrak kerja yang berbeda-beda, dan di dalam kontrak tersebut biasanya juga akan diberikan informasi yang jelas mengenai gaji prorata yang bisa diterima oleh masing-masing karyawan. Tentunya, jumlah gaji ini juga akan disesuaikan dengan kebijakan perusahaan itu sendiri.

Cara Menghitung Gaji Prorata dengan Benar

Cara menghitung gaji prorata bisa dilakukan dengan sangat mudah, jika seseorang sudah mengetahui caranya dengan baik. Pada dasarnya, sistem perhitungan gaji satu ini juga bisa digunakan untuk karyawan yang pekerjaannya dilakukan tidak secara penuh, contohnya seperti karyawan paruh waktu.

Meski ketentuan mengenai gaji prorata ini tidak ada dalam peraturan buruh Indonesia, akan tetapi sudah ada banyak perusahaan yang menerapkan sistem ini untuk pembagian gaji dalam bisnisnya. Tak perlu membahas lain halnya lagi, cara menghitung gaji prorata adalah sebagai berikut:

1. Cara Menghitung Upah Karyawan per Jam

Ada rumus tersendiri yang bisa dilakukan oleh setiap perusahaan untuk menghitung upah karyawan per jam. Cara ini bisa dilakukan oleh setiap perusahaan yang menerapkan ketentuan pembagian gaji berdasarkan waktu kerja per jam para karyawannya. Berikut adalah rumus tepatnya:

Upah karyawan per jam = 1/173 x upah yang berhasil diperoleh karyawan dalam sebulan
Upah karyawan dalam sebulan = Rp. 2.500.000,00
Maka upah per jam karyawan tersebut adalah = 1/173 x Rp. 2.500.000,00 = Rp. 14.450,00

2. Cara Menghitung Jumlah Jam Kerja

Seperti yang sudah kami katakan di beberapa paragraf sebelumnya, jumlah jam kerja atau waktu kerja karyawan akan selalu berkaitan dengan jumlah gaji prorata yang bisa mereka peroleh. Maka dari itu, seseorang juga perlu mengetahui bagaimana cara menghitung jumlah jam kerja secara benar.

Berikut adalah cara mudah untuk menghitung jumlah jam kerja yang bisa dilakukan oleh setiap perusahaan, yaitu:

Sebagai contoh, waktu kerja dalam sehari seorang karyawan yang ideal adalah 8 jam. Dengan jumlah hari kerja karyawan adalah 5 hari dalam seminggu. Maka jumlah jam kerja dari karyawan tersebut bisa dihitung dengan menggunakan rumus:

Jumlah jam kerja dalam seminggu = 5×8 = 40 jam kerja

3. Cara Menghitung Gaji Prorata

Cara ketiga bisa dilakukan langsung untuk menghitung gaji prorata yang paling ideal. Cara menghitung gaji prorata adalah salah satu jenis informasi yang wajib diketahui oleh setiap perusahaan di Indonesia.

Nantinya, gaji prorata bisa dihitung dengan mengalikan jumlah jam kerja karyawan serta jumlah upah per jamnya. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa menyimak rumus dan contoh yang ada di bawah ini:

Gaji prorata = Jumlah jam kerja karyawan x upah karyawan per jamnya

Misal:
30 x Rp. 14.450,00 = Rp. 433.500,00

Selain itu, ada juga rumus lainnya yang bisa digunakan untuk menghitung gaji prorata yang ideal, yaitu:

Gaji prorata = Jumlah hari kerja x jam kerja karyawan x 1/173 x upah kerja karyawan dalam satu bulan

Misal:
10 x 8 x 1/173 x Rp. 2.500.000,00 = Rp. 1.156.069,00

Bagaimana Sistem Prorata Digunakan?

Sistem prorata tidak hanya sering digunakan untuk kepentingan pembagian gaji saja, tapi sistem ini juga bisa digunakan untuk kepentingan lainnya yang masih berada dalam bidang yang sama, yaitu keuangan.

Jadi, bisa dipastikan bahwa prorata adalah sistem perhitungan yang bisa dilakukan oleh semua pihak. Umumnya, prorata sering digunakan sebagai perhitungan secara proporsional dalam bentuk dividen, upah, maupun suku bunga. Untuk lebih jelasnya, berikut kami sampaikan informasinya lengkap:

1. Dividen Pemegang Saham

Dividen pemegang saham juga sering disebut dengan nama shareholder dividends. Dalam hal ini, sistem prorata adalah salah satu cara perhitungan yang juga sering digunakan untuk menentukan jumlah dividen yang akan diterima oleh setiap pemegang saham pada suatu perusahaan tertentu.

Pada saat perusahaan hendak membayar dividen kepada setiap pemegang sahamnya, mereka bisa menggunakan cara ini untuk mencari persentase pembagian dividen yang paling proporsional. Hasil perhitungan ini dikatakan yang paling akurat.

Sebagai contoh, ada 500 saham yang dimiliki oleh suatu perusahaan dan dividen yang harus dibayarkan sebesar Rp. 500.000.000,00. Maka, dapat dipastikan bahwa setiap saham ini bisa menghasilkan dividen sebesar Rp. 1.000.000,00 untuk setiap pemegang saham yang bersangkutan.

2. Usaha Bersama

Prorata adalah salah satu cara yang juga bisa digunakan juga untuk menghitung pembagian laba dari usaha bersama. Usaha bersama atau joint ventures memang membutuhkan perhitungan laba yang lebih akurat dan proporsional.

Dalam hal ini, sistem perhitungan prorata bisa memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap usaha bersama termasuk perseroan terbatas, perusahaan, maupun kemitraan. Berikut adalah beberapa contoh dari peran prorata dalam kasus kemitraan:

A. Tanggung Jawab

Biaya yang menjadi tanggung jawab mitra dalam suatu bisnis akan ditentukan menurut prorata yang sesuai dengan jumlah saham pada perusahaan tersebut. Misalnya ketika ada suatu kemitraan yang mendapat tuntutan sebesar Rp. 100.000.000,00, kemudian kemitraan tersebut kalah.

Nantinya, perhitungan ini bisa dilakukan dengan melihat jumlah saham yang dimiliki masing-masing mitra. Jika mitra A memiliki saham sebesar 60% dan mitra B memiliki saham sebesar 40%, maka mitra A memiliki tanggung jawab atas utang tersebut sebesar 60% (Rp. 60.000.000,00). Sedangkan untuk mitra B hanya akan memiliki tanggung jawab pada utang tersebut sebesar 40% atau Rp. 40.000.000,00 saja.

B. Keuntungan

Tidak hanya memiliki tanggung jawab yang berbeda saja, tapi keuntungan pun juga akan saling berbeda dalam usaha bersama. Bagian keuntungan prorata dalam suatu kemitraan tertentu akan didasari dengan bunga yang berhasil didapatkan oleh perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, ketika perusahaan berhasil keuntungan yang sama sebesar Rp. 100.000.000,00, maka keuntungan yang bisa diterima oleh mitra A adalah Rp. 60.000.000,00 dan mitra B adalah Rp. 40.000.000,00.

3. Suku Bunga

Manfaat lain dari sistem perhitungan prorata adalah untuk membagi suku bunga menjadi bagian yang lebih kecil. Suku bunga yang akan dibagi menjadi beberapa bagian yang lebih kecil ini bisa berupa tarif tahunan menjadi tarif bulanan.

Masih merasa bingung meski sudah membaca penjelasan di atas? Maka Anda bisa membaca contoh berikut ini:

Suku bunga tahunan dalam pinjaman adalah 12% dan tingkat bulanannya adalah 1%. Maka, suku bunga ini bisa dihitung dengan menggunakan cara 12%/12 bulan.

4. Surat Perjanjian Asuransi

Setiap perusahaan asuransi akan memiliki surat perjanjian atau insurance policies yang berbeda-beda. Dengan ketentuannya yang berbeda-beda seperti ini, akan membuat sistem perhitungan prorata bisa memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembatalan surat perjanjian asuransi lebih awal.

Contohnya ketika Anda harus membayar asuransi selama 6 bulan sebesar Rp. 6.000.000,00. Namun, di 3 bulan pertama Anda berniat membatalkan asuransi tersebut. Maka, pihak perusahaan asuransi akan mengembalikan jumlah yang setara dari asuransi tersebut.

Tidak hanya itu, sistem perhitungan prorata juga bisa digunakan untuk menentukan pembayaran bulanan dari setiap nasabah yang mengajukannya. Jadi, tidak akan ada salah satu pihak yang merasa dirugikan dalam aktivitas ini.

5. Pembayaran Pinjaman

Sistem perhitungan prorata juga bisa digunakan ketika seseorang hendak menghitung bagian pinjamannya menjadi pembayaran bulanannya. Contohnya adalah ketika seseorang hendak mengambil pinjaman, maka saldo yang diperoleh akan dibagi selama masa pinjaman masih berlaku.

Beberapa jenis pinjaman yang bisa menggunakan sistem perhitungan ini adalah pinjaman pribadi, pinjaman mobil, hipotek, dan lain sebagainya. Nantinya, gabungan bunga ini dapat disesuaikan dengan keputusan pemberi pinjaman mengenai apa cara pembayaran bulanannya yang diterapkan.

Tips Menentukan Gaji Karyawan bagi Perusahaan

Setiap perusahaan akan memiliki ketentuan pembagian gaji yang berbeda-beda. Biasanya, proses pembagian gaji karyawan ini dapat menimbulkan pro dan kontra di antara karyawan lainnya. Maka dari itu, setiap perusahaan harus memiliki ketentuan yang baik dan benar.

Berikut adalah beberapa tips yang bisa dilakukan oleh setiap perusahaan yang hendak menerapkan ketentuan pembagian gaji dalam bisnisnya, yaitu:

1. Melakukan Riset Secara Rinci

Salah satu cara yang perlu dilakukan sebelum menerapkan sistem perhitungan prorata adalah melakukan riset mengenai gaji dengan serinci mungkin. Tujuan dari langkah ini adalah untuk menghindari kesenjangan gaji antara satu karyawan dengan karyawan lainnya.

Selain itu, riset ini juga dapat menghindari terjadinya kesenjangan gaji antara satu perusahaan dengan perusahaan pesaing lainnya. Meskipun nantinya tetap akan ada perbedaan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, tapi perbedaan ini tidak akan terlalu signifikan.

Dengan menerapkan sistem perhitungan prorata yang ideal seperti ini, akan membuat para karyawan merasa betah untuk bekerja di perusahaan tersebut dalam jangka waktu yang lama. Dengan begitu, perusahaan tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut.

2. Menjadikan Nilai Posisi Karyawan sebagai Dasar Pembagian Gaji

Pada dasarnya, setiap karyawan pasti akan memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda, tergantung posisi kerja yang dimilikinya. Sebagai pemilik usaha dari perusahaan tersebut, Anda perlu memahami nilai dari setiap posisi karyawan yang ada.

Dengan memahami nilai dari setiap posisi karyawan yang ada dalam perusahaan seperti ini, pelaku usaha bisa lebih mudah untuk menentukan gaji karyawan yang ideal. Jadi, sistem perhitungan gaji prorata ini juga akan sangat berkaitan dengan nilai posisi kerja dari karyawan itu sendiri.

Untuk menerapkan strategi perhitungan gaji karyawan yang satu ini, Anda bisa memulainya dengan menjabarkan outline dari deskripsi pekerjaan yang ada secara detail. Selain itu, jangan lupa juga untuk mencantumkan jam kerja, nama posisi, tanggung jawab, intensif, serta tunjangan perusahaan.

Dengan mencantumkan beberapa poin seperti yang ada di atas, perusahaan bisa lebih mudah untuk menentukan gaji pokok setiap karyawannya. Jadi, baik pihak perusahaan maupun karyawan tidak ada yang merasa dirugikan atas pembagian gaji tersebut.

3. Menetapkan Batas Dasar dan Batas Atas

Cara ketiga yang bisa dilakukan oleh setiap perusahaan dalam pembagian gaji karyawannya yang ideal adalah dengan menetapkan batas dasar serta batas atas secara tepat. Dengan menetapkan batasan ini, perusahaan dapat menghindari kesenjangan gaji karyawan.

Selain itu, dengan menetapkan batasan dasar dan batasan atas gaji karyawan, perusahaan juga bisa mengenali kemampuannya dalam memberikan gaji kepada para karyawannya. Dengan begitu, perusahaan bisa lebih mudah untuk merekrut karyawan baru.

4. Menentukan Metode Pembayaran yang Efektif

Perusahaan harus menentukan metode pembayaran gaji karyawan yang paling efektif. Umumnya, pemilihan metode pembayaran ini akan dilakukan pada saat negosiasi sedang dilakukan bersama dengan karyawan baru.

Bayar e-billing pajak lebih praktis dengan aplikasi e-Billing dari Klikpajak. Coba Sekarang!

Maka dari itu, perusahaan wajib menjabarkan segala jenis informasi mengenai gaji kepada para karyawan secara detail. Pastikan Anda telah memastikan bahwa metode pembayaran tersebut sudah tepat, perhitungan jam kerja yang diterapkan sudah sesuai, dan lain sebagainya. Nantinya, dengan menentukan metode pembayaran sejak awal seperti ini, perusahaan juga bisa menyesuaikan anggaran gaji karyawan dengan lebih baik.

5. Terbuka dan Transparan

Negosiasi gaji memang harus dilakukan oleh setiap perusahaan maupun karyawan. Sebab, tak jarang dari beberapa orang yang masih merasa pendapatannya belum sebanding dengan apa yang sudah mereka kerjakan, sehingga negosiasi gaji bisa menjadi solusi terbaik dalam hal ini.

Proses negosiasi gaji ini juga bisa menjadi sumber semangat bagi para karyawan baru, sehingga ini bisa meningkatkan produktivitas dalam diri karyawan tersebut. Semakin baik performa yang mampu diberikan oleh seorang karyawan, maka akan semakin baik juga dampaknya bagi perusahaan.

Tidak hanya itu, perusahaan juga perlu menjelaskan tentang gaji karyawannya secara transparan ketika proses negosiasi ini sedang dilakukan. Jika perusahaan menerapkan sistem gaji prorata, maka perusahaan wajib menjelaskan tentang hal ini kepada para calon karyawannya. Dengan begitu, karyawan tidak akan merasa bingung ketika mendapat gaji yang berbeda dari ketentuan awalnya. Sebab, waktu kerja karyawan tersebut juga belum memenuhi ketentuan awalnya.

6. Menyesuaikan Living Cost Lokasi Perusahaan

Kesejahteraan para karyawan yang terus meningkat adalah salah satu tujuan dari setiap perusahaan yang ada di Indonesia. Kesejahteraan karyawan bisa ditingkatkan dengan melakukan pengembangan diri, pengalaman baru, maupun apresiasi yang diberikan oleh perusahaan itu sendiri.

Salah satu jenis apresiasi yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada para karyawannya adalah gaji. Maka dari itu, perusahaan perlu menyesuaikan living cost dengan sebaik mungkin. Dengan begitu, karyawan bisa lebih mudah untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebagai contoh, perusahaan Anda berada di wilayah Yogyakarta, lalu ada salah satu karyawan yang dipromosikan untuk bekerja di wilayah Jakarta, maka perusahaan harus menyesuaikan living cost tersebut dengan baik. Jika tidak, maka karyawan tersebut akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

7. Berikan Slip Gaji kepada Karyawan secara Rutin

Setiap pembayaran gaji telah dilakukan, perusahaan wajib memberikan slip gaji kepada para karyawannya. Keberadaan slip gaji ini akan menguntungkan kedua belah pihak, sehingga baik pihak karyawan maupun perusahaan bisa menghitung sendiri pembagian gaji tersebut.

Saat ini, slip gaji dapat diberikan dalam bentuk online maupun offline, sehingga perusahaan tidak akan mengalami kesulitan untuk membagikan dokumen tersebut kepada para karyawannya. Dengan adanya slip gaji ini, karyawan bisa lebih merasa yakin dengan pembagian gaji yang telah mereka dapatkan.

Salah satu sistem yang dapat diterapkan oleh perusahaan di Indonesia adalah gaji prorata. Gaji prorata adalah sistem perhitungan gaji proporsional yang menjadikan waktu kerja sebagai dasar perhitungannya. Umumnya, sistem perhitungan gaji ini akan digunakan untuk para karyawan baru.

Setelah memahami perhitungan untuk sistem gaji prorata, anda dapat melakukan perhitungan pajak karyawan dengan mudah menggunakan aplikasi eSPT PPh 21 dari Klikpajak. Coba Sekarang!

Kategori : Tips Pajak

PUBLISHED04 Nov 2022
Mochammad Fadhil
Mochammad Fadhil

SHARE THIS ARTICLE: