4 Stigma Pajak yang Salah dan Harus Dihapus oleh Pengusaha

4 Stigma Pajak yang Salah dan Harus Dihapus oleh Pengusaha

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata ‘pajak’? Apakah Anda masih menyimpulkan bahwa pajak adalah sesuatu yang sulit, merepotkan dan harus dihindari? Jika iya, berarti Anda perlu mengubah pemikiran Anda selama ini. Di era digital yang semakin canggih, urusan perpajakan juga menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat agar semakin efisien dan memangkas waktu. Stigma pajak yang salah tentu harus mulai diperbaiki, dimulai dengan mengetahui apa saja yang berubah dari karakter perpajakan di Indonesia sekarang ini.

4 Stigma Pajak yang Salah dan Harus Dihapuskan

1. Merepotkan

Mengurus pajak sering dianggap sebagai sesuatu yang merepotkan, dengan syarat yang berbelit-belit dan harus mengikuti aturan yang ruwet. Terutama karena dulu cara mengurus pajak secara manual mengharuskan Anda datang ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan menunggu dalam waktu yang lama. Namun pencirian seperti itu harus segera Anda hapuskan karena pajak sudah lebih mudah dan dapat diurus tanpa harus datang ke KPP. Dengan fasilitas online yang disediakan DJP, urusan membayar atau melaporkan pajak dapat dilakukan dengan e-Filing dan e-Billing.

2. Membebani dan Merugikan

Bagi Wajib Pajak yang mendirikan Badan Usaha, pajak sering dianggap sebagai beban dan kerugian karena mengurangi pendapatan yang dihasilkan perusahaan. Padahal, ada banyak manfaat membayar pajak untuk Badan Usaha mulai dari menunjang nama perusahaan menjadi lebih profesional, mudah mendapat pinjaman sampai membuahkan keuntungan dan keadilan bagi pengusaha domestik.

3. Harus Mengantri untuk Keluhan dan Pelayanan

Saat pelaporan pajak dengan cara manual, apabila Anda memiliki keluhan atau ingin bertanya seputar pelayanan maka Anda harus datang ke KPP dan mengantri. Bagi beberapa Wajib Pajak yang ingin lebih efisien, Anda dapat mencoba layanan Kring Pajak terutama lewat fitur live chat yang sangat praktis.

4. Batas Waktu yang Sempit

Baik pelaporan SPT Masa dan Tahunan memang diberikan batas waktu tersendiri dan apabila ada perusahaan yang tidak membayar atau melapor maka akan terancam sanksi pajak seperti denda. Sebagai kesempatan untuk Wajib Pajak, dulu Pemerintah menginisiasikan amnesti pajak, yaitu pengampunan atas pengungkapan harta kekayaan yang dimiliki Wajib Pajak. Program amnesti tersebut memang memiliki batas waktu yang sempit sehingga kebanyakan Wajib Pajak mengeluhkan tertinggal atau tidak sempat saat melakukan pelaporan.

Sebagai solusinya, Anda bisa mengikuti program PAS Final untuk melaporkan aset dan harta yang Anda miliki. Berbeda dari amnesti pajak, program ini tidak berbatas waktu sehingga Anda tidak lagi menyimpulkan pengampunan pajak sebagai sesuatu yang sifatnya limited.

 

Bisa dikatakan bahwa pajak adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Anda sebagai Wajib Pajak, terutama dalam pengelolaan bisnis dan keuangan. Tentu diharapkan dengan mengetahui banyaknya perubahan positif yang signifikan dari pajak sekarang ini dapat membantu Anda untuk menghapus stigma pajak yang salah.


PUBLISHED10 Nov 2018
Ageng Prabandaru
Ageng Prabandaru

SHARE THIS ARTICLE: